Home » All posts
GICHIN FUNAKOSHI
(1868 – 1957)
Maestro Karate (Bapak Karate Modern)
Jika ada seseorang yang sangat berjasa dalam perkembangan dan posisi Karate yang telah menjadi kampiun seni beladiri di Jepang, dia adalah Ghichin Funakoshi. Maestro yang lahir di Shuri, Okinawa dan tidak pernah mendapat pengakuan resmi terhadap kemampuannya dalam beladiri hingga umur 53 tahun.
Sejarah Gichin Funakoshi tidak bisa dipisahkan dengan sejarah keagungan Karate. Dimulai sebagai seorang anak yang lemah, pesakitan dan memiliki kesehatan yang kurang baik, orang tua Gichin Funakoshi membawanya kepada maestro beladiri pada saat itu yaitu Yasutsune Itosu untuk mengajarinya Karate bersama Yasutsune Azato (Yasutsune Azato memberikan banyak pelajaran kepada Gichin Funakoshi untuk membangun pikiran disiplin dan tehnik Karate). Dengan dibantu oleh seorang dokter, Tokashiki, yang memberikan ramuan-ramuan alami untuk menguatkan fisiknya, dan latihan yang diberikan oleh Yasutsune Azato dan Yasutsune Itosu, Gichin Funakoshi tumbuh menjadi orang yang kuat dan gagah. Dia menjadi murid yang menonjol ketika menjadi murid Arakaki dan Sokon “Bushi” Matsumura. Dia menguasai dan mencapai taraf yang tinggi dalam kedisiplinan. Maestro Gichin Funakoshi selalu menceritakan disetiap kesempatan sejarah hidupnya pada bagian ini. Ketika dia hidup bersama kakek-neneknya, dia mulai memasuki sekolah wajib dimana dia sekelas dengan anak guru Yasutsune Azato dan menerima intruksi Karate pertama dari Yatsusune (Ankoh) Azato.
Ketika pada akhirnya Gichin Funakoshi datang ke Jepang dari Okinawa, tahun 1922, dia tinggal bersama orang-orang sekampung halaman di sebuah asrama mahasiswa di Suidobata, Tokyo. Dia tinggal di dalam kamar yang kecil dekat pintu dan dia akan membersihkan asrama ketika para mahasiswa pergi kuliah. Dia juga bekerja sebagai tukang kebun, dan pada malam hari Gichin Funakoshi mengajar Karate kepada para mahasiswa.
Dalam jangka waktu yang tidak begitu lama, ia mendirikan sekolah Karate pertamanya di Meishojuku. Setelah itu dia mendrikan sekolah Karate di Mejiro, dan akhirnya dia memiliki tempat untuk menghasilkan murid generasi penerus Karate, seperti, Takagi dan Nakayama dari Nippon Karate Kyokai, Yoshida dari Takudai, Obata dari Keio, Shigeru Egami dari Waseda (pembawa sukses dalam perkembangan Karate), Hironishi dari Chuo, Noguchi dari Waseda dan Hirori Ohtsuka (Otsuka).
Pada saat melakukan perjalanan keliling Jepang untuk mengenalkan dan mengajar Karate, Gichin Funakoshi selalu mengajak Takeshi Shimoda, Yoshitaka (anaknya), Egami dan Ohtsuka untuk menyertainya. Murid utamanya adalah Takeshi Shimoda dan Yoshitaka Funakoshi.
Shimoda merupakan lulusan Nen-ryu Kendo School, dia juga berlatih Ninjutsu, tetapi dia sangat tidak beruntung, Dia sakit dan meninggal pada saat masih muda , tahun 1934, setelah melakukan sebuah perjalanan pertunjukan Karate. Dia digantikan oleh Gigo (Yoshitaka) Funakoshi, yang memiliki karakter yang sangat baik dan tehnik Karate yang sangat tinggi. Shigeru Egami berpendapat bahwa tidak ada orang yang lebih baik untuk menggantikannya. Dikarenakan jiwa muda dan metode latihan yang keras (bahkan dapat dikatakan sebagai latihan yang kuat dan brutal), membuat terjadinya konflik dengan golongan tua. Othsuka Hironori, yang mengatakan tidak dapat menerima latihan yang sangat keras. Akhirnya Otsuka keluar dan mendirikan sekolah Karate sesuai dengan gayanya sendiri, yang diberi nama Wado-Ryu (Jalan Keharmonisan), dan secara nyata nama itu menyindir Yoshitaka Funakoshi. Dalam jangka panjang metode latihan Yoshitaka Funakoshi adalah sangat penting bagi masa depan Karate-do. Tetapi, sekali lagi, dia meninggal dalam usia muda, tahun 1945, ketika berumur 39 tahun, penyakit TBC (Tuberculosis) menghantarkan dia pada kematian.
Pada awal abad ke-20, ketika momentum ultra-nasionalis melanda Jepang, perkembangan seni beladiri di Jepang mengalami kemunduran, orang yang berlatih beladiri dianggap sebagai penyembah berhala (pagan) dan seni kebrutalan (savage art). Gichin Funakoshi mencoba mengatasi prasangka tersebut, dan akhinya berhasil mendapatkan pengakuan bahwa Karate merupakan salah satu seni beladiri Jepang tahun 1941.
Setelah itu banyak pekumpulan Karate berdiri di Jepang. Pada tahun 1942, Karate diperkenalkan di Universitas Keio sebagai klub Karate pertama, yang lainya termasuk Chuo, Waseda (1930), Hosei, Universitas Tokyo (1929). Klub yang lain didirikan di Shichi-Tokudo, di lingkungan tangsi militer di sudut halaman Istana.
Gichin Funakoshi mengunjungi Shichin-Tokudo setiap beberapa hari sekali untuk mengajar, ketika Otsuka mengajar di Shichin-Tokudo, seorang murid, Kogura, dari Universitas Keio yang menyandang Dan III (Sandan) Kendo (Seni melidungi diri Jepang/Japanese Fenching) dan juga penyandang sabuk hitam Karate, mengambil pedang dan berhadapan dengan Otsuka. Semua murid melihatnya dan menunggu apa yang akan terjadi. Mereka menyangka dengan kemahirannya dalam kendo, tidak seorang pun yang dapat menghadapinya dengan pedang terbuka (The Shinken). Otsuka terlihat tenang melihat Kogura dan pada saat Kogura menggerakkan pedangnya, Otsuka menyapu kakinya dan Kogura jatuh terjerembab. Kejadian ini tidak banyak diceritakan, dan hal ini membuktikan keahlian Otsuka. Kejadian itu juga membuang kejemuan terhadap filosofi Gichin Funakoshi bahwa latihan kata/jurus lebih dari sekedar cukup waktu yang dibutuhkan dan juga sangat penting untuk menujukkan kemampuan besar Gichin Funakoshi sebagai guru dan Karateka.
Pada tahun 1922, tiga muridnya, Miki, Bo dan Hirayama berpendapat bahwa berlatih kata saja tidak cukup. Mereka mulai mengenalkan pertarungan bebas (Jiyu Kumite). Mereka membuat pelindung badan dan menggunakan pelindung kepala kendo di dalam pertandingan. Gichin Funakoshi mendengar tentang penyimpangan ini, dan tidak menghalangi usaha yang dia anggap telah mengurangi arti seni beladiri Karate. Gichin Funakoshi menghentikan kunjungannya ke Shichin-Tokudo. Baik Gichin Funakoshi dan Otsuka tidak pernah terlihat lagi. Setelah kejadian tersebut Gichin Funakoshi melarang adanya pertandingan Karate. (Tidak pernah ada pertandingan Karate hingga setelah ia meninggal tahun 1958).
Ketika Gichin Funakoshi datang ke Jepang, ia membawa 16 kata, yaitu 5 Pinan (Heian), 3 Naihanchi (Tekki), Kushanku Dai (Kanku Dai), Kushanku Sho (Kanku Sho), Seisan (Hangetsu), Patsai (Bassai Dai), Wanshu (Empi/Enpi), Chinto (Gankaku), Jutte (Jitte) dan Jion. Dia memberikan muridnya kata dasar sebelum mereka menunjukkan kemajuan yang berarti untuk meningkat ke tingkat lanjutan. Pada saat itu tidak kurang dari 40 kata masuk dalam kurikulum, kemudian dimasukkan dalam edisi terbatas “ Karate-do for Specialist” yang merupakan karya monumental dari Shigeru Egami.
Jigoro Kano, penemu seni beladiri Judo moderen, sekali waktu mengundang Gichin Funakoshi dan temannya, Makoto Gima, untuk melakukan pertunjukan seni beladiri di Kodokan (Tomisaka). Kira-kira ribuan orang menyaksikan pertunjukan tersebut. Gima yang belajar setelah Yabu Kenstu adalah pemuda dari Okinawa, memainkan kata Naihanshi Shodan, dan Gichin Funakoshi memainkan Kata Koshokun (Kushanku Dai).
Sensei Kano menyaksikan pertujukan tersebut dan menanyakan tentang tehnik yang terkandung didalamnya. Dia merasa sangat kagum. Dia mengundang Gichin Funakoshi dan Gima untuk menghadiri upacara tendon (makan malam dengan nasi dan ikan fish and rice dinner), mereka menyanyi dan berkelakar untuk menyenangkan Gichin Funakoshi.
Didalam ketulusannya mengajarkan seni beladiri Karate yang baik dan benar, Gichin Funakoshi bukan tanpa hujatan. Kritik menghina menyangkut ketegasannya dalam aturan mempelajari kata, dan mempelajari apa yang mereka sebut “lembut” Karate merupakan hal yang menyia-nyiakan waktu. Gichn Funakoshi tegas terhadap aturan Hito Kata Sanen (tiga tahun satu kata).
Gichin Funakoshi adalah orang yang rendah hati. Dia mengajari dan mempratekkan apa yang dia katakan dengan kerendahan hati. Dia tidak memberikan nasehat tentang kebajikan dan kerendahan hati, tetapi pada dasarnya kerendahan hati seseorang adalah bersumber pada pandangan yang benar terhadap sesuatu dan hidup penuh dengan kesadaran. Dia hidup dengan damai dengan dirinya dan orang disekelilingnya.
Kapanpun nama Gichin Funakoshi disebutkan, akan mengingatkan kita pada perumpamaan “A Man of Tao (Do)” dan “A Little Man”. Dikatakan bahwa seorang murid bertanya “Apa bedanya antara : A Man of Tao dengan A Little Man” Guru menjelaskan ,”sederhana sekali, ketika a little man menerima “DAN” (kelulusan atau rangking), dia tidak akan sabar menunggu untuk pulang kerumah dan naik keatas kemudian mengatakan kepada semua orang bahwa dia telah mendapatkan “DAN” pertamanya. Ketika menerima “DAN” keduanya, dia akan naik hingga ke ujung tiang dan mengumumkannya kepada semua orang. Ketika menerima “DAN” ketiganya, dia melompat di atas mobilnya dan berparade keliling kota sambil membunyikan klakson, memberitahukan kepada semua orang tentang “DAN” ketiganya”.
Guru melanjutkan, “Ketika A Man of Tao menerima “DAN” pertamanya, dia akan menundukan kepalanya sebagai tanda berterima kasih dan bersyukur. Ketika menerima “DAN” keduanya, dia akan menundukan kepalanya hingga kebahu. Ketika menerima “DAN” ketiganya, dia akan menundukan kepalanya hingga pinggang dan diam-diam dia berjalan disamping dinding sehingga orang tidak dapat melihat dia.
Gichin Funakoshi adalah “A Man of Tao”. Dia tidak memiliki keistimewaan apapun dalam sebuah kompetisi, catatan kemenangan, atau kejuaraan. Keistimewaannya terletak pada kepribadiannya yang sempurna. Dia yakin kepatuhan dan penghormatan adalah hal yang harus dilakukan seseorang terhadap yang lain. Dia adalah maestro dari maestro.
Gichin Funakoshi meninggal di tahun 1957, pada usianya yang ke 89 tahun, setelah kerendahan hatinya membuat kontribusi terbesar dalam Karate-do.
Sejarah Gichin Funakoshi tidak bisa dipisahkan dengan sejarah keagungan Karate. Dimulai sebagai seorang anak yang lemah, pesakitan dan memiliki kesehatan yang kurang baik, orang tua Gichin Funakoshi membawanya kepada maestro beladiri pada saat itu yaitu Yasutsune Itosu untuk mengajarinya Karate bersama Yasutsune Azato (Yasutsune Azato memberikan banyak pelajaran kepada Gichin Funakoshi untuk membangun pikiran disiplin dan tehnik Karate). Dengan dibantu oleh seorang dokter, Tokashiki, yang memberikan ramuan-ramuan alami untuk menguatkan fisiknya, dan latihan yang diberikan oleh Yasutsune Azato dan Yasutsune Itosu, Gichin Funakoshi tumbuh menjadi orang yang kuat dan gagah. Dia menjadi murid yang menonjol ketika menjadi murid Arakaki dan Sokon “Bushi” Matsumura. Dia menguasai dan mencapai taraf yang tinggi dalam kedisiplinan. Maestro Gichin Funakoshi selalu menceritakan disetiap kesempatan sejarah hidupnya pada bagian ini. Ketika dia hidup bersama kakek-neneknya, dia mulai memasuki sekolah wajib dimana dia sekelas dengan anak guru Yasutsune Azato dan menerima intruksi Karate pertama dari Yatsusune (Ankoh) Azato.
Ketika pada akhirnya Gichin Funakoshi datang ke Jepang dari Okinawa, tahun 1922, dia tinggal bersama orang-orang sekampung halaman di sebuah asrama mahasiswa di Suidobata, Tokyo. Dia tinggal di dalam kamar yang kecil dekat pintu dan dia akan membersihkan asrama ketika para mahasiswa pergi kuliah. Dia juga bekerja sebagai tukang kebun, dan pada malam hari Gichin Funakoshi mengajar Karate kepada para mahasiswa.
Dalam jangka waktu yang tidak begitu lama, ia mendirikan sekolah Karate pertamanya di Meishojuku. Setelah itu dia mendrikan sekolah Karate di Mejiro, dan akhirnya dia memiliki tempat untuk menghasilkan murid generasi penerus Karate, seperti, Takagi dan Nakayama dari Nippon Karate Kyokai, Yoshida dari Takudai, Obata dari Keio, Shigeru Egami dari Waseda (pembawa sukses dalam perkembangan Karate), Hironishi dari Chuo, Noguchi dari Waseda dan Hirori Ohtsuka (Otsuka).
Pada saat melakukan perjalanan keliling Jepang untuk mengenalkan dan mengajar Karate, Gichin Funakoshi selalu mengajak Takeshi Shimoda, Yoshitaka (anaknya), Egami dan Ohtsuka untuk menyertainya. Murid utamanya adalah Takeshi Shimoda dan Yoshitaka Funakoshi.
Shimoda merupakan lulusan Nen-ryu Kendo School, dia juga berlatih Ninjutsu, tetapi dia sangat tidak beruntung, Dia sakit dan meninggal pada saat masih muda , tahun 1934, setelah melakukan sebuah perjalanan pertunjukan Karate. Dia digantikan oleh Gigo (Yoshitaka) Funakoshi, yang memiliki karakter yang sangat baik dan tehnik Karate yang sangat tinggi. Shigeru Egami berpendapat bahwa tidak ada orang yang lebih baik untuk menggantikannya. Dikarenakan jiwa muda dan metode latihan yang keras (bahkan dapat dikatakan sebagai latihan yang kuat dan brutal), membuat terjadinya konflik dengan golongan tua. Othsuka Hironori, yang mengatakan tidak dapat menerima latihan yang sangat keras. Akhirnya Otsuka keluar dan mendirikan sekolah Karate sesuai dengan gayanya sendiri, yang diberi nama Wado-Ryu (Jalan Keharmonisan), dan secara nyata nama itu menyindir Yoshitaka Funakoshi. Dalam jangka panjang metode latihan Yoshitaka Funakoshi adalah sangat penting bagi masa depan Karate-do. Tetapi, sekali lagi, dia meninggal dalam usia muda, tahun 1945, ketika berumur 39 tahun, penyakit TBC (Tuberculosis) menghantarkan dia pada kematian.
Pada awal abad ke-20, ketika momentum ultra-nasionalis melanda Jepang, perkembangan seni beladiri di Jepang mengalami kemunduran, orang yang berlatih beladiri dianggap sebagai penyembah berhala (pagan) dan seni kebrutalan (savage art). Gichin Funakoshi mencoba mengatasi prasangka tersebut, dan akhinya berhasil mendapatkan pengakuan bahwa Karate merupakan salah satu seni beladiri Jepang tahun 1941.
Setelah itu banyak pekumpulan Karate berdiri di Jepang. Pada tahun 1942, Karate diperkenalkan di Universitas Keio sebagai klub Karate pertama, yang lainya termasuk Chuo, Waseda (1930), Hosei, Universitas Tokyo (1929). Klub yang lain didirikan di Shichi-Tokudo, di lingkungan tangsi militer di sudut halaman Istana.
Gichin Funakoshi mengunjungi Shichin-Tokudo setiap beberapa hari sekali untuk mengajar, ketika Otsuka mengajar di Shichin-Tokudo, seorang murid, Kogura, dari Universitas Keio yang menyandang Dan III (Sandan) Kendo (Seni melidungi diri Jepang/Japanese Fenching) dan juga penyandang sabuk hitam Karate, mengambil pedang dan berhadapan dengan Otsuka. Semua murid melihatnya dan menunggu apa yang akan terjadi. Mereka menyangka dengan kemahirannya dalam kendo, tidak seorang pun yang dapat menghadapinya dengan pedang terbuka (The Shinken). Otsuka terlihat tenang melihat Kogura dan pada saat Kogura menggerakkan pedangnya, Otsuka menyapu kakinya dan Kogura jatuh terjerembab. Kejadian ini tidak banyak diceritakan, dan hal ini membuktikan keahlian Otsuka. Kejadian itu juga membuang kejemuan terhadap filosofi Gichin Funakoshi bahwa latihan kata/jurus lebih dari sekedar cukup waktu yang dibutuhkan dan juga sangat penting untuk menujukkan kemampuan besar Gichin Funakoshi sebagai guru dan Karateka.
Pada tahun 1922, tiga muridnya, Miki, Bo dan Hirayama berpendapat bahwa berlatih kata saja tidak cukup. Mereka mulai mengenalkan pertarungan bebas (Jiyu Kumite). Mereka membuat pelindung badan dan menggunakan pelindung kepala kendo di dalam pertandingan. Gichin Funakoshi mendengar tentang penyimpangan ini, dan tidak menghalangi usaha yang dia anggap telah mengurangi arti seni beladiri Karate. Gichin Funakoshi menghentikan kunjungannya ke Shichin-Tokudo. Baik Gichin Funakoshi dan Otsuka tidak pernah terlihat lagi. Setelah kejadian tersebut Gichin Funakoshi melarang adanya pertandingan Karate. (Tidak pernah ada pertandingan Karate hingga setelah ia meninggal tahun 1958).
Ketika Gichin Funakoshi datang ke Jepang, ia membawa 16 kata, yaitu 5 Pinan (Heian), 3 Naihanchi (Tekki), Kushanku Dai (Kanku Dai), Kushanku Sho (Kanku Sho), Seisan (Hangetsu), Patsai (Bassai Dai), Wanshu (Empi/Enpi), Chinto (Gankaku), Jutte (Jitte) dan Jion. Dia memberikan muridnya kata dasar sebelum mereka menunjukkan kemajuan yang berarti untuk meningkat ke tingkat lanjutan. Pada saat itu tidak kurang dari 40 kata masuk dalam kurikulum, kemudian dimasukkan dalam edisi terbatas “ Karate-do for Specialist” yang merupakan karya monumental dari Shigeru Egami.
Jigoro Kano, penemu seni beladiri Judo moderen, sekali waktu mengundang Gichin Funakoshi dan temannya, Makoto Gima, untuk melakukan pertunjukan seni beladiri di Kodokan (Tomisaka). Kira-kira ribuan orang menyaksikan pertunjukan tersebut. Gima yang belajar setelah Yabu Kenstu adalah pemuda dari Okinawa, memainkan kata Naihanshi Shodan, dan Gichin Funakoshi memainkan Kata Koshokun (Kushanku Dai).
Sensei Kano menyaksikan pertujukan tersebut dan menanyakan tentang tehnik yang terkandung didalamnya. Dia merasa sangat kagum. Dia mengundang Gichin Funakoshi dan Gima untuk menghadiri upacara tendon (makan malam dengan nasi dan ikan fish and rice dinner), mereka menyanyi dan berkelakar untuk menyenangkan Gichin Funakoshi.
Didalam ketulusannya mengajarkan seni beladiri Karate yang baik dan benar, Gichin Funakoshi bukan tanpa hujatan. Kritik menghina menyangkut ketegasannya dalam aturan mempelajari kata, dan mempelajari apa yang mereka sebut “lembut” Karate merupakan hal yang menyia-nyiakan waktu. Gichn Funakoshi tegas terhadap aturan Hito Kata Sanen (tiga tahun satu kata).
Gichin Funakoshi adalah orang yang rendah hati. Dia mengajari dan mempratekkan apa yang dia katakan dengan kerendahan hati. Dia tidak memberikan nasehat tentang kebajikan dan kerendahan hati, tetapi pada dasarnya kerendahan hati seseorang adalah bersumber pada pandangan yang benar terhadap sesuatu dan hidup penuh dengan kesadaran. Dia hidup dengan damai dengan dirinya dan orang disekelilingnya.
Kapanpun nama Gichin Funakoshi disebutkan, akan mengingatkan kita pada perumpamaan “A Man of Tao (Do)” dan “A Little Man”. Dikatakan bahwa seorang murid bertanya “Apa bedanya antara : A Man of Tao dengan A Little Man” Guru menjelaskan ,”sederhana sekali, ketika a little man menerima “DAN” (kelulusan atau rangking), dia tidak akan sabar menunggu untuk pulang kerumah dan naik keatas kemudian mengatakan kepada semua orang bahwa dia telah mendapatkan “DAN” pertamanya. Ketika menerima “DAN” keduanya, dia akan naik hingga ke ujung tiang dan mengumumkannya kepada semua orang. Ketika menerima “DAN” ketiganya, dia melompat di atas mobilnya dan berparade keliling kota sambil membunyikan klakson, memberitahukan kepada semua orang tentang “DAN” ketiganya”.
Guru melanjutkan, “Ketika A Man of Tao menerima “DAN” pertamanya, dia akan menundukan kepalanya sebagai tanda berterima kasih dan bersyukur. Ketika menerima “DAN” keduanya, dia akan menundukan kepalanya hingga kebahu. Ketika menerima “DAN” ketiganya, dia akan menundukan kepalanya hingga pinggang dan diam-diam dia berjalan disamping dinding sehingga orang tidak dapat melihat dia.
Gichin Funakoshi adalah “A Man of Tao”. Dia tidak memiliki keistimewaan apapun dalam sebuah kompetisi, catatan kemenangan, atau kejuaraan. Keistimewaannya terletak pada kepribadiannya yang sempurna. Dia yakin kepatuhan dan penghormatan adalah hal yang harus dilakukan seseorang terhadap yang lain. Dia adalah maestro dari maestro.
Gichin Funakoshi meninggal di tahun 1957, pada usianya yang ke 89 tahun, setelah kerendahan hatinya membuat kontribusi terbesar dalam Karate-do.
Murid Gichin Funakoshi yg terkenal
- Hironori Ohtsuka (1892-1982), pendiri Wado-Ryu
- Shinken Taira ( 1897-1970), pendiri Ryuku-Kobudo
- Yasuhiro Konishi
- Isao Obata
- Gigo Funakoshi (1906-1945)
- Shigeru Egami (1912-1981), Shotokan
- Masatoshi Nakayama (1913-1987), Shotokan JKA
- Masutatsu Oyama (1923-1994), pendiri Kyoyushin-Ryu
- Hidetaka Nishiyama, Shotokan ITKF
- Hirokazu Kanazawa (1921- sekarang), Shotokan SKIF
- Tsutomu Okazaki
- Takeshi Shimoda
- Shinken Gima
- Kimo Ito
- Genshin Hironishi
- Taiji Kase
- Hiroshi Noguchi
- Tomasaburo Okano
- Fusajiro Takagi
- Masamoto Takagi
- Tasuo Yamada
KATA SHOTOKAN
Kata yang berarti bentuk resmi atau kembangan juga memiliki arti sebagai filsafat. Kata memainkan peranan yang penting dalam latihan Karate. Setiap Kata memiliki Embusen (pola dan arah) dan Bunkai (praktik) yang berbeda-beda tergantung dari Kata yang sedang dikerjakan.Kata dalam Karate memiliki makna dan arti yang berbeda. Bahkan Kata juga menggambarkan sesuatu. Inilah Kata sebagai filsafat. Karena itulah Kata memiliki peranan yang penting sejak jaman dulu dan menjadi latihan inti dalam Karate. Gichin Funakoshi mengambil Kata dari perguruan Shorei dan Shorin. Shotokan memiliki 26 Kata yang terus dilatih hingga kini. Ada yang populer ada pula yang tidak. Masing-masing mempunyai tingkat kesulitan sendiri-sendiri. Karena itu wajib bagi tiap Karateka untuk mengulang berkali-kali bahkan ratusan kali.
Kata adalah bagian-bagian dari sebuah tehnik dasar, menengah dan lanjutan yang disusun kedalam kesatuan aturan gerak tehnik Karate. Masing-masing Kata mempunyai karakter yang berbeda. Beberapa Kata ada yang kuat dan penuh tenaga, sebaliknya ada yang lemah lembut dan mengalun secara alami. Bahkan ada Kata yang merupakan gabungan dari dua karakter diatas dan masing-masing Kata memiliki kesempatan yang unik.
Kata adalah bagian-bagian dari sebuah tehnik dasar, menengah dan lanjutan yang disusun kedalam kesatuan aturan gerak tehnik Karate. Masing-masing Kata mempunyai karakter yang berbeda. Beberapa Kata ada yang kuat dan penuh tenaga, sebaliknya ada yang lemah lembut dan mengalun secara alami. Bahkan ada Kata yang merupakan gabungan dari dua karakter diatas dan masing-masing Kata memiliki kesempatan yang unik.
SHORIN – RYU (SEKOLAH SHORIN) DAN SHOREI – RYU (SEKOLAH SHOREI)
Kata aliran Shotokan berasal dari masing-masing Sekolah Shorin (Shorin-Ryu) atau Sekolah Shorei (Shorei-Ryu). Kata Sekolah Shorin (Shorin-Ryu) memperlihatkan gerakan yang sangat ringan, cepat dengan gerakan cepat kedepan dan kebelakang. Kata Sekolah Shorei (Shorei-Ryi) memperlihatkan kekuatan fisik dan tenaga otot. Sangatlah penting untuk mengetahui dari sekolah mana sebuah Kata berasal, tanpa itu sebuah Kata tidak dapat dipelajari dan dimainkan dengan semestinya.
Kata memiliki tingkatan yang dalam mempelajarinya membutuhkan waktu yang cukup lama. Bahkan Gichin Funakoshi beranggapan bahwa untuk menguasai satu Kata saja dibutuhkan 3 (tiga) tahun, itupun jika ditunjang dengan penguasaan tehnik Karate yang tinggi.
Kata memiliki tingkatan yang dalam mempelajarinya membutuhkan waktu yang cukup lama. Bahkan Gichin Funakoshi beranggapan bahwa untuk menguasai satu Kata saja dibutuhkan 3 (tiga) tahun, itupun jika ditunjang dengan penguasaan tehnik Karate yang tinggi.
KATA HEIAN
Di Pulau Okinawa, seri Kata ini aslinya bernama “ Pinan” Kata. Nama Heian diberikan oleh Sensei Gichin Funakoshi dan khalayak mengartikan Heian dengan “Pikiran Yang Sangat Tenang”. Pemberian nama Heian Kata memperlihatkan bahwa Kata ini memiliki tingkat kesulitan tinggi dalam mempelajarinya, satu sampai lima. Kecuali Heian dan Tekki Kata, kata aliran Shotokan tidak menggunakan nama yang menggunakan penomoran.
KATA TEKKI
Seri Kata ini terdiri dari 3 (tiga) Kata yang aslinya bernama Naihanchi Kata. Sensei Gichin Funakoshi mengganti namanya menjadi Tekki. Nama Tekki diambil dari Kata “Tetsu” yang berarti besi atau baja, dan “Ki” yang berarti pengendara kuda atau Pahlawan Berkuda. Dan kemudian Tekki diartikan sebagai “Pahlawan Berkuda Dengan Pakaian Besi/Baja” (Knight).
KATA DAI DAN SHO
Dalam tulisan kanji Jepang, Kata “Dai” dan “Sho” secara sederhana memiliki arti “Besar” dan “Kecil”. Walaupun telah terjadi kesalahan konsep Kata, Kata “Dai” tidak lagi atau kurang dari dari Kata “Sho”.Kata Gojushiho telah membuktikannya. Versi “Dai” dari kata Gojushiho pada kenyataannya lebih kecil dari versi “Sho”. Tetapi secara umum pengertian “Dai” lebih dari “Sho” tetap digunakan hingga saat ini.
Inkai Ranting Karate Amboy
May 20, 2017
CB Blogger
Indonesia
HIERARKI MEMPELAJARI KARATE
Dalam mempelajari Kata haruslah terprogram dengan baik sesuai dengan perkembangan tehnik dasar Karate yang dikuasai. Sangatlah penting jika dalam mempelajari Kata harus didampingi oleh senpei/sensei yang bertugas sebagai instruktur. Setiap tingkat Kata memiliki tingkat kesulitan yang berbeda, makin tinggi Kata yang dimainkan makin tinggi pula penguasaan tehnik dasar Karate yang disyaratkan. Mempelajari Kata akan sangat berkaitan dengan hirearki dalam Karate. Dibawah ini dapat dilihat tingkatan/hierarki dalam mempelajari Kata.
Kyu 9 Heian Shodan
Kyu 9 Heian Shodan
Kyu 8 Heian Nidan
Kyu 7 Heian Sandan
Kyu 6 Heian Yondan
Kyu 5 Heian Godan
Kyu 4 Tekki Shodan
Kyu 3 Bassai-Dai
Kyu 2 Bassai-Dai
Kyu 1 Bassai-Dai
Shodan (Sabuk Hitam Dan I) : Bassai-Dai dan salah satu Kata Heian atau Tekki
Shodan (Sabuk Hitam Dan I) : Bassai-Dai dan salah satu Kata Heian atau Tekki
Nidan (Sabuk Hitam Dan II) : Kelas A/B dan salah satu Kata kelas A
Sandan (Sabuk Hitam Dan III) : Kelas A/B/C dan salah satu Kata kelas A/B
Yondan/Godan (Sabuk Hitam Dan IV/V) : Kelas A/B/C/D dan salah satu Kata kelas A/B/C
Kelas A : Tekki Nidan,Bassai-Dai, Kanku-Dai, Hangetsu, Empi.
Kelas A : Tekki Nidan,Bassai-Dai, Kanku-Dai, Hangetsu, Empi.
Kelas B : Tekki Sandan, Gion, Gankaku, Jutte/Jitte.
Kelas C : Bassai-Sho, Kanku-Sho,Sochin, Chinte, Nijushiho.
Kelas D : Gojushiho-Sho, Gojushiho-Dai, Unsu.
KATA
ALIRAN SHOTOKAN
KATA yang berarti bentuk resmi atau kembangan juga memiliki arti sebagai filsafat. KATA memainkan peranan yang penting dalam latihan karate. Setiap KATA memiliki embusen (pola dan arah) dan
bunkai (praktik) yang berbeda-beda tergantung dari KATA yang sedang dikerjakan. KATA dalam karate memiliki makna dan arti yang berbeda, bahkan KATA juga menggambarkan sesuatu, Inilah KATA sebagai filsafat. Karena itulah KATA memiliki peranan yang penting sejak jaman dulu dan menjadi latihan inti dalam karate. Gichin Funakoshi mengambil KATA dari perguruan Shorei dan Shorin.
Shotokan memiliki 26 KATA yang terus
dilatih hingga kini. Ada yang populer ada pula yang tidak. Masing-masing
mempunyai tingkat kesulitan sendiri-sendiri. Karena itu wajib bagi tiap
karateka untuk mengulang berkali-kali bahkan ratusan kali.
KATA
|
ARTI
|
NAMA
ASLI
|
Takeoku Shodan
|
Pembuka Jalan (1)
|
|
Takeoku Nidan
|
Pembuka Jalan (2)
|
|
Takeoku Sandan
|
Pembuka Jalan (3)
|
|
Heian Shodan
|
Pikiran Yang Damai (1)
|
Pinan Nidan
|
Heian Nidan
|
Pikiran Yang Damai (2)
|
Pinan Shodan
|
Heian Sandan
|
Pikiran Yang Damai (3)
|
Pinan Sandan
|
Heian Yondan
|
Pikiran Yang Damai (4)
|
Pinan Yondan
|
Heian Godan
|
Pikiran Yang Damai (5)
|
Pinan Godan
|
Tekki Shodan
|
Satria Yang Kuat (1)
|
Naihanchi
|
Tekki Nidan
|
Satria Yang Kuat (2)
|
|
Tekki Sandan
|
Satria Yang Kuat (3)
|
|
Bassai Dai
|
Menembus Benteng (Besar)
|
Passai
|
Kanku Dai
|
Menatap Langit (Besar)
|
Kushanku
|
Enpi
|
Burung Layang-Layang Terbang
|
Wanshu
|
Hangetsu
|
Bulan Separuh
|
Seishan
|
Jion
|
Nama Biksu Budha, Pengampunan
|
Jion
|
Nijushiho
|
24 Langkah
|
Niseishi
|
Sochin
|
Memberi Kedamaian Bagi Orang
Banyak
|
Sochin
|
Bassai Sho
|
Menembus Benteng (Kecil)
|
|
Kanku Sho
|
Menatap Langit (Kecil)
|
|
Jitte
|
Bertarung Seolah-Olah Dengan
Kekuatan 10 Orang
|
Jitte
|
Chinte
|
Tangan Yang Luar Biasa
|
Chinte
|
Meikyo
|
Cermin Jiwa
|
Rohai
|
Gankaku
|
Bangau Diatas Batu
|
Chinto
|
Wankan
|
Mahkota Raja
|
Wankan
|
Gojushiho Sho
|
54 Langkah (Kecil)
|
|
Gojushiho Dai
|
54 Langkah (Besar)
|
Useishi
|
Unsu
|
Tangan Seperti Awan
|
Hakko
|
KATA HEIAN
1. HEIAN SHODAN
1. HEIAN SHODAN
Heian berarti “Pikiran Penuh Kedamaian”. Kata ini adalah kata pertama dari lima Kata tingkat dasar, yang diciptakan oleh Yasutsune Itosu (salah satu guru Gichin Funakoshi). Meskipun tidak diketahui bagaimana Kata Heian ini diciptakan, tetapi banyak yang berpendapat bahwa Heian merupakan bagian dari Kata yang lebih tinggi tingkatannya yaitu Kata Kanku-Dai. Itosu menciptakan Kata Heian untuk memperkenalkan Karate kedalam kurikulum sekolah untuk menghilangkan kesan tehnik yang berbahaya yang terdapat pada kata lanjutan. Heian Kata merupakan Kata Shorin, yang memperlihatkan kekuatan dan fleksibelitas gerakan.
Hal Penting : Sikap kedepan dan Pukulan gerak maju. Memiliki 21 gerakan dengan waktu aplikasi 40 detik.
2. HEIAN NIDAN
Heian Nidan berarti seri Heian yang kedua. Aslinya Kata ini merupakan Kata yang pertama, tetapi Gichin Funakoshi merubahnya, karena Kata ini lebih sulit untuk dipelajari maupun mengajarinya. Kata ini berhubungan dengan Kata Bassai-Dai.
Hal Penting : Sikap balik kebelakang,tendangan menyamping,membalikan posisi pinggang/pinggul dan kombinasi tehnik. Memiliki 26 gerakan dengan waktu aplikasi 40 detik.
3. HEIAN SANDAN
Heian Sandan berarti Heian yang ketiga dari seri Kata Heian. Kata ini berhubungan dengan Kata Jitte.
Hal Penting :
Sikap kesamping dan tangkisan atas (atas bahu/kepala). Memilki 20 gerakan dengan waktu aplikasi 40 detik.
4. HEIAN YONDAN
Heian Yondan berarti Heian keempat dari seri Kata Heian. Kata ini berhubungan dengan Kata Kanku-Dai.
Hal Penting : Pengembangan/kontraksi, tangkisan dan tehnik penyelesaian. Memiliki 27 gerakan dengan waktu aplikasi 50 detik.
5. HEIAN GODAN
Heian Godan berarti Kata Heian kelima dari Seri Kata Heian. Kata ini berhubungan dengan Kata Gankaku.
Hal Penting : Fleksibilitas dan Keseimbangan. Memiliki 23 gerakan dengan waktu aplikasi 50 detik.
KATA TEKKI
6. TEKKI SHODAN
6. TEKKI SHODAN
Tekki berarti kuda besi atau posisi berkuda. Tekki Shodan adalah Kata Tekki pertama dalam seri Kata Tekki. Kata Tekki adalah Kata Shorei, menggambarkan kekuatan, tehnik yang penuh tenaga. Kata Tekki diciptakan dan direvisi oleh Yasutsune Itosu. Gichin Funakoshi menghabiskan waktu tiga tahun untuk belajar dan menguasai masing-masing Kata Tekki ini (pada waktu itu, setiap murid menghabiskan beberapa tahun untuk mempelajari Kata). Tekki Shodan mempunyai nama asli Naihanchi dan diperkenalkan oleh Yasutsune Itosu, Tekki Nidan dan Sandan diciptakan oleh Yasutsune Itosu. Belum ada penjelasan yang memadai kenapa Tekki memiliki perlintasan gerakan satu garis, meskipun kadang terpikir dilakukan dengan baju besi dan/atau diatas punggung kuda (hal ini tidak bisa diaplikasikan secara teknis). Makna dari Kata ini dapat juga pertahanan dengan latar belakang dinding/tembok atau diatas perahu.
Hal Penting : Posisi badan rendah yang kuat, getaran pinggul, dan sikap kesamping. Memiliki 29 gerakan dengan waktu aplikasi 50 detik.
7. TEKKI NIDAN
Tekki Nidan berarti Kata kedua dari seri Kata Tekki. Tekki Nidan dan Tekki Sandan dipelajari untuk pertama kali pada level sabuk Coklat, tetapi tidak dipelajari secara intensif hingga tingkat sabuk Hitam.
Hal Penting : Posisi badan rendah yang kuat, getaran pinggul dan sikap kesamping. Memiliki 24 gerakan , dengan waktu aplikasi 50 detik.
8. TEKKI SANDAN
Tekki Sandan berarti Kata Tekki yang ketiga dari seri Kata Tekki.
Hal Penting : Posisi badan rendah yang kuat, getaran pinggul dan sikap kesamping. Memiliki 36 gerakan dengan waktu aplikasi 50 detik.
KATA LANJUTAN
9. BASSAI-DAI
9. BASSAI-DAI
Bassai-Dai berarti menghancurkan pertahanan musuh dengan kecerdikan dan menemukan kelemahan lawan (kebanyakan mengartikan “Gempuran Yang Sangat Kuat”). Kata ini dipelajari pada tingkat Kyu 3 hingga tingkat Shodan (Dan I). Aslinya disebut Passai, Kata ini pertama kali diperlihatkan di Tomari dan Shuri. Bassai-Dai adalah Kata Shorin.
Hal Penting : Rotasi Pinggul, kekuatan penuh, semangat yang kuat dan luapan tenaga, ketidak-untungan harus menjadi keuntungan. Memiliki 42 gerakan, dengan waktu aplikasi 60 detik.
10. BASSAI-SHO
Bassai-Sho berarti lebih rendah dari Bassai-Dai. Kata Shorin ini diciptakan oleh Yasutsune Itosu. Kata ini lembut, tetapi penuh tenaga walaupun tidak seperti Bassai-Dai.
Hal Penting : Tangkisan yang sangat kuat dan serangan balik yang sangat tajam. Memiliki 27 gerakan.
11. KANKU-DAI
Kanku-Dai berarti melihat dunia atau langit (dari gerakan pertama). Kata Dai menunjukkan bahwa Kata ini merupakan Kata Kanku terhebat. Kanku-Dai bernama asli Kushanku, nama seorang ahli bela diri Cina yang datang ke Okinawa pada abad ke-18. Kata ini merupakan Kata favorit dari Gichin Funakoshi dan Kata ini yang beliau pilih untuk di demonstrasikan diluar Okinawa. Gichin Funakoshi yakin bahwa Kanku-Dai memiliki semua element dasar dari Karate Shotokan. Kata ini juga merupakan favorit Sensei Okazaki yang mendemonstrasikan kata ini di buku The Best Karate. Kata ini juga menjadi bahan ujian sebagai Kata kedua dalam Ujian Nidan (Dan II).
Hal Penting : Tehnik yang cepat dan lamban, penuh tenaga dan lembut, pemekaran dan penciutan, dan lompatan dan membungkuk. Kata ini digunakan jika benar-benar terkepung oleh musuh. Keadaan/situasi juga merupakan hal penting, karena panjangnya Kata. Memiliki 65 gerakan dengan waktu aplikasi 90 detik.
12. KANKU-SHO
Kanku-Sho berarti Kata terendah didalam Kata Kanku. Kata Shorin ini merupakan perpaduan antara Heian Yondan dan Kanku-Dai.
Hal Penting : Penggunaan tenaga dengan benar, kecepatan dan pemekaran/penciutan dari otot. Memiliki 47 gerakan.
13. JITTE
Jitte (kadang dibaca Jutte) berarti tangan sepuluh atau keajaiban sepuluh. Kata Shorei ini berasal dari Tomari. Kata ini mungkin diperagakan dengan tongkat di tangan. Nama Kata ini tidak mengalami perubahan (hanya Jitte dan Gion yang tidak mengalami perubahan).
Hal Penting : Rotasi pinggul, dan tangkisan dengan tongkat. Memiliki 24 gerakan dengan waktu aplikasi 60 detik.
14. HANGETSU
Hangetsu berarti Bulan Separuh/Setengah Bulan (berarti juga nama sikap utama dalam Kata). Kata ini adalah asli Cina dan nama aslinya adalah Seisan atau Seishan. Kata ini diperagakan pertama kali di Tomari. Kata ini adalah Kata Shorei.
Hal Penting : Pemekaran/penciutan, putaran lengan dan pergerakan kaki serta pernapasan. Memiliki 41 gerakan dengan waktu aplikasi 60 detik.
15. EMPI
Empi (kadang disebut Enpi) berarti Burung Wallet Terbang. Kata Shorin ini dipelajari teutama di Tomari (hingga Restorasi Meiji, disebarkan ke Shuri dan Naha). Kata ini sebelumnya dikenal dengan nama Wansu atau Wanshu (Setelah seorang ahli beladiri Cina datang ke Okinawa ). Nama Kata ini diganti oleh Gichin Funakoshi. Yasutsune Itosu membuat perbaikan yang sangat berarti dari gerakan Kata yang asli.
Hal Penting : Tinggi rendah posisi badan, gerakan yang cepat (kecepatan). Memiliki 37 gerakan dengan waktu aplikasi 60 detik.
16. GANKAKU
Gankanku berarti “Burung Bangau Diatas Karang” (nama ini diambil dari salah satu posisi dalam Kata ini – ada posisi dimana seperti burung bangau dengan satu kaki, sebagai serangan dalam mempertahankan diri). Ini merupakan Kata yang sudah sangat tua, aslinya bernama Chinto, kemudian namanya diubah oleh Gichin Funakoshi. Kata ini disempurnakan oleh Yasutsune Itosu. Gankaku merupakan Kata Shorin (walaupun kadang dikatakan sebagai Kata Shorei).
Hal Penting : Keseimbangan dan tendangan kesamping. Memiliki 42 gerakan dengan waktu aplikasi 60 detik.
17. GION (JION)
Arti dari Gion (Kadang dibaca Jion) belum ditemukan. Ini merupakan Kata Shorei yang diberi nama setelah rahib Cina datang ke Okinawa. Gion juga merupakan nama pura di Jepang dan Cina. Dan Gion dikenal sebagai nama rahib Budha Suci. Nama Kata ini tidak mengalami perubahan. Gion dipelajari di Tomari. Versi lain dari Kata Gion ini juga dipelajari aliran Karate Wado-Ryu. Didalam mengambil nama dari rahib Budha Suci, Gion berkonotasi ketenangan, penuh kebanggaan, dan penuh kekuatan dalam mempelajarinya. Kata ini didemonstrasikan oleh Sensei Tanaka dalam buku The Best Karate.
Hal Penting : Ketenangan, gerakan penuh tenaga, dengan semangat bertarung yang hebat. Memiliki 47 gerakan dengan waktu aplikasi 60 detik.
18. CHINTE
Chinte berarti “Tangan Ajaib”. Kata ini merupakan Kata Shorin yang terdiri dari beberapa tehnik Cina yang tidak ditemukan dalam Karate Shotokan. Gichin Finakoshi mengganti namanya menjadi Shoin, tetapi kemudian kembali lagi kenama yang dahulu. Sangat sulit untuk menguasai pengunaan tenaga yang benar pada Kata ini.
Hal penting : Memiliki 33 gerakan.
19. UNSU
Unsu berarti “Tangan Bagaikan Awan”. Kata ini merupakan Kata Shorin tanpa diketahui asalnya. Tangan dengan arti tehnik tangan menyapu lawan seperti awan terbelah pisau dilangit. Masatoshi Nakayama mengingatkan bahwa Kata Unsu terlihat bagaikan “Burung gagak yang menakutkan mencoba menari “, jika Kata Heian, Kanku-Dai, Empi dan Gion sebelumnya telah dikuasai.
Hal Penting : Lompatan Tinggi dan rendah, tenik menendang, berpura-pura dan menggunakan beberapa bagian tubuh sebagai senjata. Memiliki 48 gerakan.
20. SOCHIN
Sochin berarti perasaan/keadaan tenang ditengah orang (dan nama ini diambil dari posisi utama didalam Kata ini). Kata Sochin merupakan Kata Shorei, dimodifikasi oleh Yoshitaka Funakoshi (anak dari Gichin Funakoshi).
Hal Penting : Lamban, gerakan penuh tenaga dan sikap sochin ( juga disebut sikap fudo-dachi ). Memilki 40 gerakan.
21. NIJUSHIHO
Nijushiho berarti 24 (dua puluh empat) langkah (sekarang memiliki 30 gerakan, tetapi aslinya adalah 24 gerakan kaki). Makna dari Kata ini adalah sebuah gambaran alami aliran air atau ombak (kadang gerakannya lamban dengan segala keagungan, kadang kuat dan cepat). Kata ini merupakan Kata Shorin (meskipun ada yang mengklaim sebagai Kata Shorei). Kata ini adalah Kata favorit instruktur Frank Woon-A-Tai. Pada tahun1934 Guru Gichin Funakoshi memerintahkan Masatoshi Nakayama untuk mempelajari Kata ini dari Guru Shito-Ryu, Kenwa Mabuni. Kata ini secara bertahap disesuaikan dengan tehnik Shotokan.
Hal Penting : Penggabungan total dari bermacam kekuatan dan kecepatan (Masatoshi Nakayama mengingatkan bahwa kata ini dapat menyerupai sebuah “Tarian” tanpa kepandaian yang sempurna untuk melakukannya).
22. GOJUSHIHO-DAI
Gojushiho-Dai berarti 54 (lima puluh empat) langkah (sekarang 62 gerakan). Kata Shorin ini terinspirasi dari seekor burung yang menyerang musuh dengan ketajaman paruhnya. Nama lamanya adalah Useshi. Kata ini asli dari Cina dan dipelajari di Cina hingga abad ke-20. Masatoshi Nakayama juga mempelajari Kata Gojushiho ketika dia belajar Nijushiho dengan Mabuni.
Hal Penting : Dengan segala kelembutan dan tehnik aliran.
23. GOJUSHIHO-SHO
Gojushiho-Sho berarti kata terendah di Kata Gojushiho. Kata ini merupakan Kata Shorin yang terinpirasi dari seekor burung yang menyerang musuh dengan ketajaman paruh, sayap dan cakarnya. Kemampuan tehnik tingkat tinggi sangat dibutuhkan untuk memainkan atau mengerti Kata ini.
Hal Penting : Satu hal penting dalam Kata ini adalah tehnik tangan pedang. Memiliki 65 gerakan yang mudah dikacaukan dengan gerakan Gojushiho-Dai.
24. MEIKYO
Meikyo berarti cermin membersihkan cermin (kembali mengasah tehnik Karate dengan latihan yang berulang untuk mendapatkan sebuah pengertian yang jernih tentang tehnik dan karakter Karate). Kata Shorei ini memiliki pengusaan tehnik dalam Kata Heian dengan bentuk Kata yang lebih lunak dan tenang. Nama asli Kata ini adalah Rohai. Kata ini merupakan Kata favorit Sensei Masatoshi Nakayama. Menurut cerita asli, Kata ini diambil dari sebuah tarian untuk meminta Tuhan memunculkan Dewa Matahari (Amaterasu) dari goa dimana dia bersembunyi.
Hal Penting : Memiliki 32 gerakan.
25. WANKAN
Wankan berarti “Mahkota Raja”. Kata Shorin ini tidak dijelaskan dalam buku The Best Karate. Wankan adalah Kata terpendek dari semua Kata aliran shotokan. Kata ini aslinya dipelajari di Tomari, terdiri dari gerakan lembut dan ringan dari apa yang sekarang kita lihat dalam kata aliran Shotokan.
26. JI’IN
Ji’in diciptakan sebagai sebuah penghormatan terhadap kematian dan ketenangan / penuh kekuatan dari Gion. Nama aslinya tidak diketahui dan namanya mungkin diambil dari sumber yang sama dengan Gion. Pembahasan tentang ini belum selesai dalam buku The Best Karate.



































