Home » All posts
World Karate Federation (WKF) adalah badan olahraga karate internasional terbesar dengan lebih dari 130 negara anggota. Ini dibentuk pada tahun 1990 dan merupakan satu-satunya organisasi karate yang diakui oleh Komite Olimpiade Internasional dan memiliki lebih dari sepuluh juta anggota. WKF menyelenggarakan Kejuaraan Dunia Karate Junior dan Senior, yang masing-masing diadakan setiap tahun. Presiden WKF adalah Antonio Espinos, dan kantor pusatnya berada di Madrid, Spanyol. Gaya yang diakui oleh WKF adalah Gōjū-ryu, Shitō-ryu, Shotokan dan Wadō-ryu.
Sejarah
Karate diperkenalkan ke Eropa sekitar tahun 1950 oleh master Jepang, terutama dari Japan Karate Association (JKA). Pada tahun 1961, Jacques Delcourt diangkat sebagai Presiden Karate Prancis, yang pada saat itu merupakan anggota asosiasi Federasi Judo. Pada tahun 1963 ia mengundang enam federasi Eropa lain yang dikenal (Italia, Inggris, Belgia, Jerman, Swiss dan Spanyol) untuk datang ke Prancis untuk menghadiri karate internasional pertama, dan Inggris Raya dan Belgia menerima undangan tersebut.
Pada bulan Desember tahun itu, enam dari tujuh federasi berkumpul di Paris, dalam apa yang menjadi Kongres Karate Eropa pertama, dengan tujuan untuk memperbaiki dan mengatur turnamen karate antar negara mereka. Telah dicatat bahwa penyatuan gaya karate yang berbeda itu tidak mungkin, jadi mereka memutuskan untuk menyatukan wasit.
Pada tahun 1965 Uni Karate Eropa diciptakan, dengan Jacques Delcourt terpilih sebagai Presiden. Tahun berikutnya Kejuaraan Karate Eropa yang pertama diadakan, di Paris. Acara tersebut menarik kira-kira tiga ratus penonton dan ditampilkan di TV; Namun, ini menarik kritik karena terlalu keras karena banyak korban luka. Dewan EKU memiliki pendapat yang berbeda tentang sumber luka, dengan pendapat mulai dari pelanggaran peraturan yang berlebihan hingga kurangnya pengkondisian dan keterampilan pemblokiran. Masalah ini dibahas di beberapa bagian pada kursus wasit pertama, yang diadakan di Roma. Di sini, peraturan wasit diselaraskan dengan menggunakan peraturan JKA sebagai dasar.
Pada tahun 1970, Uni Karate Internasional (IKU) dibentuk oleh Jacques Delcourt dalam upaya untuk mengatur karate di tingkat dunia. Setelah mendengar ini, Ryoichi Sasakawa, Presiden Federasi Semua Organisasi Karatedo Jepang (FAJKO), yang kemudian mengganti namanya menjadi Federasi Karate Jepang (JKF), pergi ke Prancis untuk membahas pembentukan badan pengatur internasional. IKU dengan cepat dibubarkan dan sebuah organisasi baru dibentuk antara EKU dan federasi Jepang, dan disebut World Union of Karate-do Organizations (WUKO).
Pada tahun 1985 Uni Dunia Organisasi Karate-do secara resmi diakui oleh Komite Olimpiade Internasional sebagai dewan resmi untuk karate.
WUKO mencoba menyatukan Federasi Internasional Karate Internasional (ITKF) pada tahun 1990 untuk membentuk WKF; Namun, usaha ini gagal dan kelompok WUKO pergi untuk membentuk WKF sendiri.
Pada awal 1990-an, penolakan Hidetaka Nishiyama untuk menyelaraskan organisasi ITKF-nya dengan Organisasi Karate-Do (WUKO) Uni Dunia menyebabkan Komite Olimpiade Internasional untuk menangguhkan pengakuannya terhadap WUKO sebagai badan pengatur internasional karate amatir. ITKF dan WUKO telah bergabung dan membentuk sebuah organisasi karate terpadu, namun hal ini tidak terwujud. WUKO akhirnya menjadi World Union of Karate-Do Federation pada akhir 2008. Pada bulan Agustus 2016 diumumkan bahwa Karate akan berada di Olimpiade Musim Panas 2020.
Kompetisi dan acara
Kumite
Sejarah
Karate diperkenalkan ke Eropa sekitar tahun 1950 oleh master Jepang, terutama dari Japan Karate Association (JKA). Pada tahun 1961, Jacques Delcourt diangkat sebagai Presiden Karate Prancis, yang pada saat itu merupakan anggota asosiasi Federasi Judo. Pada tahun 1963 ia mengundang enam federasi Eropa lain yang dikenal (Italia, Inggris, Belgia, Jerman, Swiss dan Spanyol) untuk datang ke Prancis untuk menghadiri karate internasional pertama, dan Inggris Raya dan Belgia menerima undangan tersebut.
Pada bulan Desember tahun itu, enam dari tujuh federasi berkumpul di Paris, dalam apa yang menjadi Kongres Karate Eropa pertama, dengan tujuan untuk memperbaiki dan mengatur turnamen karate antar negara mereka. Telah dicatat bahwa penyatuan gaya karate yang berbeda itu tidak mungkin, jadi mereka memutuskan untuk menyatukan wasit.
Pada tahun 1965 Uni Karate Eropa diciptakan, dengan Jacques Delcourt terpilih sebagai Presiden. Tahun berikutnya Kejuaraan Karate Eropa yang pertama diadakan, di Paris. Acara tersebut menarik kira-kira tiga ratus penonton dan ditampilkan di TV; Namun, ini menarik kritik karena terlalu keras karena banyak korban luka. Dewan EKU memiliki pendapat yang berbeda tentang sumber luka, dengan pendapat mulai dari pelanggaran peraturan yang berlebihan hingga kurangnya pengkondisian dan keterampilan pemblokiran. Masalah ini dibahas di beberapa bagian pada kursus wasit pertama, yang diadakan di Roma. Di sini, peraturan wasit diselaraskan dengan menggunakan peraturan JKA sebagai dasar.
Pada tahun 1970, Uni Karate Internasional (IKU) dibentuk oleh Jacques Delcourt dalam upaya untuk mengatur karate di tingkat dunia. Setelah mendengar ini, Ryoichi Sasakawa, Presiden Federasi Semua Organisasi Karatedo Jepang (FAJKO), yang kemudian mengganti namanya menjadi Federasi Karate Jepang (JKF), pergi ke Prancis untuk membahas pembentukan badan pengatur internasional. IKU dengan cepat dibubarkan dan sebuah organisasi baru dibentuk antara EKU dan federasi Jepang, dan disebut World Union of Karate-do Organizations (WUKO).
Pada tahun 1985 Uni Dunia Organisasi Karate-do secara resmi diakui oleh Komite Olimpiade Internasional sebagai dewan resmi untuk karate.
WUKO mencoba menyatukan Federasi Internasional Karate Internasional (ITKF) pada tahun 1990 untuk membentuk WKF; Namun, usaha ini gagal dan kelompok WUKO pergi untuk membentuk WKF sendiri.
Pada awal 1990-an, penolakan Hidetaka Nishiyama untuk menyelaraskan organisasi ITKF-nya dengan Organisasi Karate-Do (WUKO) Uni Dunia menyebabkan Komite Olimpiade Internasional untuk menangguhkan pengakuannya terhadap WUKO sebagai badan pengatur internasional karate amatir. ITKF dan WUKO telah bergabung dan membentuk sebuah organisasi karate terpadu, namun hal ini tidak terwujud. WUKO akhirnya menjadi World Union of Karate-Do Federation pada akhir 2008. Pada bulan Agustus 2016 diumumkan bahwa Karate akan berada di Olimpiade Musim Panas 2020.
Kompetisi dan acara
Kumite
- Individu kumite - Pria dan Wanita
- Tim kumite - Pria dan Wanita
- Kata individu - Pria dan Wanita
- Kata tim (disinkronisasi) - Pria dan Wanita (kata tim dengan bunkai)
WKF / WUKO Karate World Championships
| Edition | Year | Host City | Country | Events |
|---|---|---|---|---|
| 1 | 1970 | Tokyo | 2 | |
| 2 | 1972 | Paris | 2 | |
| 3 | 1975 | Long Beach | 2 | |
| 4 | 1977 | Tokyo | 2 | |
| 5 | 1980 | Madrid | 10 | |
| 6 | 1982 | Taipei | 13 | |
| 7 | 1984 | Maastricht | 13 | |
| 8 | 1986 | Sydney | 15 | |
| 9 | 1988 | Cairo | 16 | |
| 10 | 1990 | Mexico City | 16 | |
| 11 | 1992 | Granada | 16 | |
| 12 | 1994 | Kota Kinabalu | 16 | |
| 13 | 1996 | Sun City | 17 | |
| 14 | 1998 | Rio de Janeiro | 17 | |
| 15 | 2000 | Munich | 17 | |
| 16 | 2002 | Madrid | 17 | |
| 17 | 2004 | Monterrey | 17 | |
| 18 | 2006 | Tampere | 17 | |
| 19 | 2008 | Tokyo | 17 | |
| 20 | 2010 | Belgrade | 16 | |
| 21 | 2012 | Paris | 16 | |
| 22 | 2014 | Bremen | 16 | |
| 23 | 2016 | Linz | 16 | |
| 24 | 2018 | Lima | 16 |
Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/World_Karate_Federation
Inkai Ranting Karate Amboy
October 04, 2017
CB Blogger
Indonesia
KEKUATAN BERASAL DARI BAGIAN BAWAH PERUT, TEKNIK DARI PINGGUL
Orang memilih jalan karate untuk alasan yang bermacam-macam – untuk menjadi kuat; mendapatkan bentuk otot yang indah; mendapatkan kesehatan dan panjang umur; untuk penyegaran dan rasa bahagia. Karate adalah seni bela diri yang bisa dikerjakan oleh siapa saja, tidak bergantung umur atau jenis kelamin, dan bisa dimulai kapanpun dalam hidup seseorang.
Tidak masalah bagaimana cara orang memasuki jalan karate, dengan ketekunan yang tidak pernah lelah maka semua tujuan dibalik keikutsertaannya dalam karate akan tercapai. Juga, tanpa disadarinya akan datang saat dimana orang itu menemukan dirinya selalu berkepala dingin dalam berbagai situasi. Inilah daya tarik karate sekaligus jalan untuk menjadi seorang sabuk hitam. Hal itu juga berarti jalan yang membawa kita untuk menguasai seni tersebut.
Secara teoritis, karate adalah metode latihan fisik bagi jiwa dan tubuh untuk menselaraskan diri dengan hukum alam semesta. Dengan melatih lengan dan dan kaki secara sistematis, karate juga menjadi seni bela diri yang bermanfaat untuk hidup kita sehari-hari. Sementara ada pendapat tujuan karate sama seperti senam kesehatan, sebagai olah raga, dan untuk melatih mental, karate juga menawarkan keuntungan psikologis.
Dengan melatih bagian bawah perut – pusat gravitasi manusia (disebut tanden atau seika tanden dalam Bahasa Jepang; berlokasi dibawah pusar) – dan memberdayakan teknik pernafasan yang sesuai (pernafasan dada, pernafasan perut dan pernafasan bawah perut), kita dapat mencapai konsentrasi mental dan memperkuat ki (energi kehidupan) atau elemen paling dasar dari hidup manusia. Lebih jauh akan memberikan energi yang penting untuk hidup baik dan sehat.
Sejak masih remaja, aku telah menggunakan seluruh waktuku untuk karate. Dan hingga kinipun di usia 74 tahun, aku menghabiskan waktu lebih dari delapan bulan setiap tahunnya di luar negeri untuk mengajar dan mempromosikan karate ke penjuru dunia. Di tengah gaya hidup yang sibuk dan tidak menentu ini, karate memungkinkan aku mencapai ketenangan pikiran di setiap waktu. Perut bagian bawah – yang juga disebut hara dalam Bahasa Jepang – memberiku kemampuan untuk kebutuhan ini.
Namun bagaimana perut bagian bawah – atau hara, seika tanden – dapat diperkuat lewat latihan karate? Semua teknik dasar yang dikerjakan dalam karate, khususnya teknik umum seperti pukulan lurus dan kebalikannya, tidak hanya memperkuat otot perut saat melakukannya. Hal itu juga memberdayakan beragam kekuatan internal, kekuatan mental, kekuatan spiritual dan organ dalam. Ketika memukul semua tenaga menyatu dengan usaha yang terkonsentrasi dan menselaraskan diri menjadi kekuatan yang ekplosif. Oleh karena itu, jika otot perut bagian bawah tidak pernah digunakan, sama artinya berlatih dengan konsep yang tidak benar.
Tidak masalah bagaimana cara orang memasuki jalan karate, dengan ketekunan yang tidak pernah lelah maka semua tujuan dibalik keikutsertaannya dalam karate akan tercapai. Juga, tanpa disadarinya akan datang saat dimana orang itu menemukan dirinya selalu berkepala dingin dalam berbagai situasi. Inilah daya tarik karate sekaligus jalan untuk menjadi seorang sabuk hitam. Hal itu juga berarti jalan yang membawa kita untuk menguasai seni tersebut.
Secara teoritis, karate adalah metode latihan fisik bagi jiwa dan tubuh untuk menselaraskan diri dengan hukum alam semesta. Dengan melatih lengan dan dan kaki secara sistematis, karate juga menjadi seni bela diri yang bermanfaat untuk hidup kita sehari-hari. Sementara ada pendapat tujuan karate sama seperti senam kesehatan, sebagai olah raga, dan untuk melatih mental, karate juga menawarkan keuntungan psikologis.
Dengan melatih bagian bawah perut – pusat gravitasi manusia (disebut tanden atau seika tanden dalam Bahasa Jepang; berlokasi dibawah pusar) – dan memberdayakan teknik pernafasan yang sesuai (pernafasan dada, pernafasan perut dan pernafasan bawah perut), kita dapat mencapai konsentrasi mental dan memperkuat ki (energi kehidupan) atau elemen paling dasar dari hidup manusia. Lebih jauh akan memberikan energi yang penting untuk hidup baik dan sehat.
Sejak masih remaja, aku telah menggunakan seluruh waktuku untuk karate. Dan hingga kinipun di usia 74 tahun, aku menghabiskan waktu lebih dari delapan bulan setiap tahunnya di luar negeri untuk mengajar dan mempromosikan karate ke penjuru dunia. Di tengah gaya hidup yang sibuk dan tidak menentu ini, karate memungkinkan aku mencapai ketenangan pikiran di setiap waktu. Perut bagian bawah – yang juga disebut hara dalam Bahasa Jepang – memberiku kemampuan untuk kebutuhan ini.
Namun bagaimana perut bagian bawah – atau hara, seika tanden – dapat diperkuat lewat latihan karate? Semua teknik dasar yang dikerjakan dalam karate, khususnya teknik umum seperti pukulan lurus dan kebalikannya, tidak hanya memperkuat otot perut saat melakukannya. Hal itu juga memberdayakan beragam kekuatan internal, kekuatan mental, kekuatan spiritual dan organ dalam. Ketika memukul semua tenaga menyatu dengan usaha yang terkonsentrasi dan menselaraskan diri menjadi kekuatan yang ekplosif. Oleh karena itu, jika otot perut bagian bawah tidak pernah digunakan, sama artinya berlatih dengan konsep yang tidak benar.
Meski demikian masih ada pertanyaan: mengapa perut bagian bawah memegang peranan yang begitu penting? Jawabannya singkat, karena perut bagian bawah merupakan pusat gravitasi dari tubuh manusia. Sementara sebagian orang menyebutnya “pusat tubuh,” Aku lebih memilih istilah “pusat gravitasi.” Alasannya, ketika aku berdiskusi dengan ahli matematika bernama Heisuke Hironaka aku memakai kata “pusat” dan Tuan Hironaka menanggapinya, “Oh, maksud Anda pusat gravitasi.” Sejak itu aku mengingat jika istilah “pusat gravitasi” lebih mudah dipahami.
Alasan lain perut bagian bawah begitu penting adalah karena melatih seika tanden dan meningkatkan tekanan perut otot dapat membantu proses pembersihan darah di seluruh tubuh. Aku akan menjelaskan hal ini lebih lanjut di buku ini bagaimana praktisi karate mula-mula diajarkan untuk memberdayakan pernafasan, memfokuskan tenaga dan konsentrasi di perut bagian bawah. Dan selanjutnya mengadaptasikan nafas dengan gerakan mereka.
Kemampuan untuk memfokuskan tenaga dan berkonsentrasi pada seika tanden secara otomatis akan memberikan percaya diri dan kestabilan emosi. Kemampuan itu juga merefleksikan aspek sikap, karakter dan kepribadian. Karena alasan ini para pendekar masa lalu yang disebut samurai merupakan orang yang terpelajar, tangguh dalam seni perang, tapi juga berani dan berpengetahuan luas. Mereka ini mengasah keahliannya dengan menekankan pada seika tanden.
Dalam meditasi Zazen agama Budha (berlatih Zen dalam posisi duduk), praktisinya juga diperintahkan untuk memfokuskan kekuatan pada perut bagian bawah. Meski di awal periode Kamakura (1185 – 1333) golongan pendekar diistimewakan oleh pemerintah, para samurai dan shogun saat itu tetap ambil bagian dalam latihan Zen. Mereka menempatkan seika tanden dalam posisi yang penting sementara di sisi lain mereka juga membangun karakter masing-masing.
Karena alasan inilah di Jepang ada ungkapan “telah menguasai hara” (hara ga dekite iru) dan “mempunyai hara yang telah terlatih” (hara ga suwatte iru) bagi orang-orang yang berpikiran luas, tetap tenang dalam berbagai kondisi, mampu memecahkan masalah dengan sistematis dan tetap berkepala dingin.
Mempunyai hara yang telah terlatih membuat orang mempunyai percaya diri dalam kesehariannya. Dalam hal inilah tersembunyi daya tarik seni bela diri. Perut bagian bawah – bergantung pada bagaimana dikombinasikan dengan pernafasan dan cara menggunakannya – dapat memberi keberanian dalam menghadapi situasi yang tidak terduga. Sebaliknya, dapat memberi efek ketenangan dalam kondisi penuh tekanan. Keadaan itu benar-benar fenomena yang menakjubkan.
Karena banyaknya gerakan dalam karate, mengkonsentrasikan kekuatan di perut bagian bawah menjadi tantangan bagi murid pemula, khususnya anak-anak. Namun ketika pinggul mengeluarkan tendangan yang kuat, maka perut bagian bawahlah yang memberi keseimbangan semua gerakan. Dari sebelum tendangan dilancarkan, ketika tendangan kontak pada sasaran dan seterusnya. Karena alasan inilah maka perut bagian bawah juga bermakna paling penting dalam perlindungan diri.
Ketika mengajar anak-anak, aku sering memakai analogi untuk menjelaskan prinsip dasar karate – contohnya kekuatan berasal dari perut bagian bawah dan teknik berasal dari pinggul. Aku akan berkata pada mereka, “Sama seperti ayah dan ibumu; jika kau berpikir pinggul adalah ayahmu, maka perut bagian bawah adalah ibumu. Saat kedua orang tuamu bekerja bersama-sama, mereka akan mampu menyelesaikan semua urusan rumah tangga. Serupa jika pinggul dan perut bagian bawahmu bekerja sama, maka kau akan mengembangkan tubuh, teknik dan pikiran sekaligus.” (Indoshotokan)
Artikel ini berjudul asli “Power comes the lower abdomen, techniques from the hips.” yang berasal dari buku “Black Belt Karate: The Intensive Course” yang ditulis oleh Hirokazu Kanazawa (2006). Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi. Foto berasal dari http://karatenisentenashi.tumblr.com.
sumber : indosotokan.blogspot.com
BLACK BELT
Bagi
sebagian praktisi beladiri, khususnya yg mempelajari beladiri asal Jepang,
merupakan suatu kebanggaan jika jerih payahnya latihan akhirnya berbuah
penghargaan seikat sabuk berwarna hitam ini.
Sebuah simbol seorang praktisi beladiri telah menyandang status pelatih.
Istilah beladiri Jepang, para penyandang sabuk hitam disebut Yudansha yang terkelompok dalam beberapa sebutan sesuai tingkatan sabuk hitam (DAN). Sempai/Senpai biasanya diistilahkan untuk penyandang sabuk hitam (yudansha) DAN I-III, Sensei bagi penyandang DAN IV-V dan Shihan untuk DAN VI-VIII atau bisa pula DAN IX-V).
Idealnya, setelah 5 sampai 7 tahun berlatih tekun dan terus mengikuti ujian di tingkat Kohai (sabuk putih s.d. coklat), barulah diperoleh kesempatan diuji untuk memperoleh sabuk hitam.
Setelah menyandang sabuk hitam, capek dan letihnya sebagai kohai, sirnalah sudah. Amarah dan bentakan pelatih tak lagi terdengar, karena posisinya sekarang adalah orang yang melatih. Sekarang giliran sang yudansha baru menggembleng kohai dengan sesekali membentak atau mungkin melakukan tindakan 'arogansi' dengan tangan dan kaki juga benda keras.
Demikiankah seorang sabuk hitam?
Bahkan mungkin ada segelintir yudansha yang beranggapan setelah memperoleh ijazah/sertifikat dan menyandang sabuk hitam (meski baru DAN I) tamatlah sudah ilmu yang dipelajarinya dari beladiri tersebut. Semua sudah didapatkan saat menjadi kohai, sehingga tatkala sabuk hitam melingkar di pinggang yang ada hanya melatih atau mungkin istirahat latihan, karena alasan tadi, ilmu yang dipelajari sudah habis.
Padahal, sabuk hitam adalah awal sebenarnya seseorang berlatih seni beladiri. Tingkat sabuk hitam adalah masa di mana seorang praktisi terus memperbaiki teknik dan keilmuannya, karena saat berstatus kohai adalah masa di mana dasar-dasar teknik dibentuk.
Ilmu beladiri sejati, tak habis oleh tingkatan yang disimbolkan dengan sabuk. Jika kita mau terus berlatih dan berlatih akan merasa bahwa ilmu beladiri itu luas dan banyak sekali, sehingga kita tak boleh berhenti belajar.
Tingkatan DAN dalam sabuk hitam bukan semata hirarki tetapi menandakan kemampuan si penyandang. Seorang DAN II tentunya dari segi penguasaan teknik, pengetahuan dan kematangan jiwa akan lebih bagus dari DAN I. Demikian seterusnya.
Fenomena di tanah air, masih cukup banyak yudansha yang kemampuannya stagnan bahkan cenderung menurun, baik segi teknik maupun fisik terlebih pengetahuan dan wawasan serta kematangan jiwa, akibat pandangan sempit tentang arti sabuk hitam.
Hanya sedikit pemegang sabuk hitam terutama DAN III ke atas yang memiliki kemampuan sesuai dengan tingkatan DAN-nya.
Berbeda dengan di Jepang atau mungkin negara lain macam di Amerika dan Eropa. Lihat saja, para master atau ahli beladiri di sana meski berusia lanjut tapi kemampuan beladirinya masih terjaga, fisik mereka pun tetap prima.
Tentunya karena mereka tak berhenti berlatih selain melatih. Seperti halnya sebilah pisau akan terjaga ketajamannya kalau dirawat dengan baik, bukannya digeletakkan begitu saja atau cuma disarungkan tanpa pernah diasah.
Sebuah simbol seorang praktisi beladiri telah menyandang status pelatih.
Istilah beladiri Jepang, para penyandang sabuk hitam disebut Yudansha yang terkelompok dalam beberapa sebutan sesuai tingkatan sabuk hitam (DAN). Sempai/Senpai biasanya diistilahkan untuk penyandang sabuk hitam (yudansha) DAN I-III, Sensei bagi penyandang DAN IV-V dan Shihan untuk DAN VI-VIII atau bisa pula DAN IX-V).
Idealnya, setelah 5 sampai 7 tahun berlatih tekun dan terus mengikuti ujian di tingkat Kohai (sabuk putih s.d. coklat), barulah diperoleh kesempatan diuji untuk memperoleh sabuk hitam.
Setelah menyandang sabuk hitam, capek dan letihnya sebagai kohai, sirnalah sudah. Amarah dan bentakan pelatih tak lagi terdengar, karena posisinya sekarang adalah orang yang melatih. Sekarang giliran sang yudansha baru menggembleng kohai dengan sesekali membentak atau mungkin melakukan tindakan 'arogansi' dengan tangan dan kaki juga benda keras.
Demikiankah seorang sabuk hitam?
Bahkan mungkin ada segelintir yudansha yang beranggapan setelah memperoleh ijazah/sertifikat dan menyandang sabuk hitam (meski baru DAN I) tamatlah sudah ilmu yang dipelajarinya dari beladiri tersebut. Semua sudah didapatkan saat menjadi kohai, sehingga tatkala sabuk hitam melingkar di pinggang yang ada hanya melatih atau mungkin istirahat latihan, karena alasan tadi, ilmu yang dipelajari sudah habis.
Padahal, sabuk hitam adalah awal sebenarnya seseorang berlatih seni beladiri. Tingkat sabuk hitam adalah masa di mana seorang praktisi terus memperbaiki teknik dan keilmuannya, karena saat berstatus kohai adalah masa di mana dasar-dasar teknik dibentuk.
Ilmu beladiri sejati, tak habis oleh tingkatan yang disimbolkan dengan sabuk. Jika kita mau terus berlatih dan berlatih akan merasa bahwa ilmu beladiri itu luas dan banyak sekali, sehingga kita tak boleh berhenti belajar.
Tingkatan DAN dalam sabuk hitam bukan semata hirarki tetapi menandakan kemampuan si penyandang. Seorang DAN II tentunya dari segi penguasaan teknik, pengetahuan dan kematangan jiwa akan lebih bagus dari DAN I. Demikian seterusnya.
Fenomena di tanah air, masih cukup banyak yudansha yang kemampuannya stagnan bahkan cenderung menurun, baik segi teknik maupun fisik terlebih pengetahuan dan wawasan serta kematangan jiwa, akibat pandangan sempit tentang arti sabuk hitam.
Hanya sedikit pemegang sabuk hitam terutama DAN III ke atas yang memiliki kemampuan sesuai dengan tingkatan DAN-nya.
Berbeda dengan di Jepang atau mungkin negara lain macam di Amerika dan Eropa. Lihat saja, para master atau ahli beladiri di sana meski berusia lanjut tapi kemampuan beladirinya masih terjaga, fisik mereka pun tetap prima.
Tentunya karena mereka tak berhenti berlatih selain melatih. Seperti halnya sebilah pisau akan terjaga ketajamannya kalau dirawat dengan baik, bukannya digeletakkan begitu saja atau cuma disarungkan tanpa pernah diasah.
Tak jarang ada yudansha yang hadir
ke tengah publik beladiri saat ada kegiatan semata. Sekedar aktualisasi, aku
seorang sabuk hitam penyandang DAN III atau V. Sementara di dojo tak kelihatan
batang hidungnya. Demikian pula di rumah, sabuk dan seragam beladirinya
bergantung begitu saja di kapstok atau dilipat di lemari.
Di tengah kegiatan, misalnya gashuku atau ujian, yudansha seperti ini biasanya hanya suka pamer diri. Sementara tatkala diminta unjuk teknik, beringsut mundur ke belakang karena sadar diri. Bahkan kadang gashuku dijadikan ajang mengembalikan memori atas lupanya dengan teknik yang pernah dipelajari. Lucu memang. Ada saja yudansha yang mengulang belajar teknik yang sebenarnya 'kurikulum' para kohai.
Di tengah kegiatan, misalnya gashuku atau ujian, yudansha seperti ini biasanya hanya suka pamer diri. Sementara tatkala diminta unjuk teknik, beringsut mundur ke belakang karena sadar diri. Bahkan kadang gashuku dijadikan ajang mengembalikan memori atas lupanya dengan teknik yang pernah dipelajari. Lucu memang. Ada saja yudansha yang mengulang belajar teknik yang sebenarnya 'kurikulum' para kohai.
Sumber : http://martialartist-area.blogspot.sg/2008/10/sorry.html
![]() |
| sumber gambar :listverse.com |
KARATE DAN SENJATA ALAMIAH
Beberapa bagian tubuh adalah senjata yang alamiah. Jika bagian tubuh tersebut kita olah sedemikian rupa dengan latihan yang terus menerus atau kontinyu. Tiap bagian tubuh tersebut bermanfaat untuk tangkisan dan serangan yang dapat dipergunakan sebagaimana fungsinya. Dalam hal inilah Karate-do berbeda dengan beladiri lainnya.
Latihan yang teratur adalah salah satu cara untuk mengembangkan senjata alami tersebut menjadi senjata yang dapat dengan tepat digunakan untuk menangkis setiap serangan, ataupun untuk menjatuhkan lawan dengan satu pukulan ataupun satu gerakan lainnya (Ichigeki hissatsu). Latihan bagian tubuh tersebut sangat penting dilakukan secara terus menerus. hal ini betul adanya karena meminjam istilah waktu "nggolek ilmu jaman kuliah" , ada susunan kata yang begitu berkesan bagi penulis yaitu "BISA KARENA TERBIASA". Dengan TERBIASA kita melakukan sesuatau, walaupun sesuatu tersebut kita anggap suatu hal yang sepele, tetapi karena terbiasa melakukan tanpa kita sadari , maka dari tidak bisa, kita akan BISA.
Seperti halnya dalam karate, waktu baru mengenal karate atau masih kyu 10 (baca sabuk putih), setiap mereka kesulitan dalam melakukan setiap gerakan, gerakan terasa kaku, dan begitu berat setiap melangkah. Kekakuan tersebut dapat dirubah tentunya dengan latihan secara bertahap dengan kebiasaan yang terus menerus dan dengan ketlatenan dan kesabaran yang ekstra tinggi (mungkin terlalu berlebihan), tapi begitulah adanya.
Dalam karate latihan berat saja tidak cukup untuk merubah senjata alami tersebut menjadi senjata yang efektif, tanpa dibarengi dengan suatu kebiasan, yang extreme mungkin bisa dikatakan dengan istilah "mendarah daging". Istilah ini mungkin sangat tepat digunakan bagi mereka yang telah berhasil mengubah senjata alami tersebut menjadi senjata yang tajam bagai pisau yang siap digunakan. Itulah karate.... setiap bagian tubuh adalah senjata alamiah yang siap digunakan.
Sumber :
http://karate-inkaiponorogo.blogspot.co.id/2011/09/karate-dan-senjata-alamiah.html
Inkai Ranting Karate Amboy
September 19, 2017
CB Blogger
IndonesiaLatihan yang teratur adalah salah satu cara untuk mengembangkan senjata alami tersebut menjadi senjata yang dapat dengan tepat digunakan untuk menangkis setiap serangan, ataupun untuk menjatuhkan lawan dengan satu pukulan ataupun satu gerakan lainnya (Ichigeki hissatsu). Latihan bagian tubuh tersebut sangat penting dilakukan secara terus menerus. hal ini betul adanya karena meminjam istilah waktu "nggolek ilmu jaman kuliah" , ada susunan kata yang begitu berkesan bagi penulis yaitu "BISA KARENA TERBIASA". Dengan TERBIASA kita melakukan sesuatau, walaupun sesuatu tersebut kita anggap suatu hal yang sepele, tetapi karena terbiasa melakukan tanpa kita sadari , maka dari tidak bisa, kita akan BISA.
Seperti halnya dalam karate, waktu baru mengenal karate atau masih kyu 10 (baca sabuk putih), setiap mereka kesulitan dalam melakukan setiap gerakan, gerakan terasa kaku, dan begitu berat setiap melangkah. Kekakuan tersebut dapat dirubah tentunya dengan latihan secara bertahap dengan kebiasaan yang terus menerus dan dengan ketlatenan dan kesabaran yang ekstra tinggi (mungkin terlalu berlebihan), tapi begitulah adanya.
Dalam karate latihan berat saja tidak cukup untuk merubah senjata alami tersebut menjadi senjata yang efektif, tanpa dibarengi dengan suatu kebiasan, yang extreme mungkin bisa dikatakan dengan istilah "mendarah daging". Istilah ini mungkin sangat tepat digunakan bagi mereka yang telah berhasil mengubah senjata alami tersebut menjadi senjata yang tajam bagai pisau yang siap digunakan. Itulah karate.... setiap bagian tubuh adalah senjata alamiah yang siap digunakan.
Sumber :
http://karate-inkaiponorogo.blogspot.co.id/2011/09/karate-dan-senjata-alamiah.html
Karate, Sebagai Seni bela diri
KARATE merupakan suatu seni beladiri yang cukup digemari oleh banyak orang di Indonesia, seperti halnya cabang olahraga Bulutangkis ataupun sepakbola. Hal ini terbukti dengan banyaknya para peminat yang terdiri dari berbagai macam lapisan masyarakat, baik pria dan wanita maupun tua dan muda. Dan ini tidak hanya dikota-kota besar saja akan tetap! juga dikota-kota kecil dibumi Nusantara ini.
Dengan memasyarakatnya KARATE ini, sering kali terjadi anggapan yang salah tentang KARATE itu sendiri. KARATE seolah-olah hanyalah sejenis beladiri yang hanya mengutamakan bentuk kekerasan maupun kesadisan yang nampaknya kurang manusiawi, atau suatu bentuk pameran kekuatan belaka dengan memecahkan benda-benda keras seperti : batu bata , batu kali, besi beton, papan dan es balok dengan menggunakan kepala, tangan dan kaki. Penafsiran seperti tersebut diatas sangatlah disayangkan.
KARATE-DO terdiri dari kata KARA yang artinya KOSONG, kemudian TE berarti TANGAN, dan DO berarti JALAN yaitu seni beladiri itu sendiri. Dengan demikian pengertian KARATE-DO ialah suatu seni beladiri tangan kosong, dimana seluruh bagian dari tangan dan kaki dilatih secara sistimatis untuk dapat mengendalikan serangan yang mendadak seperti halnya bilamana menggunakan senjata.
Tujuan dari pada KARATE-DO itu sendiri ialah untuk menambah kekuatan dan meningkatkan ketahanan phisik serta membentuk teratur pribadi yang baik dan berbudi luhur dengan melalio latihan yang tekun dan menggunakanmetode yang tepat dan benar, agar seseorang dapat mengatasi segala macam bentuk rintangan dalam situasi dan kondisi yang bagaimana juga.
Secara garis besar bentuk latihan dari KARATEKA terbagi dalam 3 (tiga) macam :
1. KIHON (dasar) yaitu Tangkisan (Uke), Tinjuan/pukulan (Tsuki), Sentakan (Uchi), Tendangan (Keri) dan Sapuan (Harai).
2. KUMITE (pertarungan)
3. KATA (jurus) yaitu semua gerakan dasar yang dirangkaikan menjadi suatu kesatuan bentuk gerakan yang indah, bertenaga serta berirama.
Disamping ketiga macam bentuk latihan tersebut, masih banyak bentuk latihan lainnya seperti :
- Tehnik pernafasan
- Pemusatan tenaga dan kecepatan
- Pengencangan dan pengendoran otot
- Pemanfaatan perputaran pinggul
- Pengaturan irama dan tepat
Dari semua bentuk latihan yang dilakukan, pada prinsipnya ialah untuk menciptakan "KIME" atau "PENENTU" yang mana ini merupakan hakekat dari pada KARATE-DO itu sendiri. "KIME" atau "PENENTU" ialah sikap/gerakan KARATE yang bentuknya benar dan harmonis, tepat sasaranya. dengan tenaga dan kecepatan yang maksimal diserta dengan penguasaan diri yang ketat, sehingga sewaktu pukutan atau tendangan mencapai pada titik vital segera dihentikan.
Apabila kita kaji lebih jauh KARATE-DO mempunyai beberapa aspek yang menarik untuk dipahami, antara lain seni, olahraga.
Aspek SENI, dapat kita lihat pada peragaan jenis KATA, dimana pada peragaannya tampak gerakan-gerakan yang indah, bertenaga, berirama dan dapat diterima oleh logika serta yang lebih dari itu menunjukkan sifat keagungan, kemuliaan dan ketenangan. Seorang karateka dalam memperagakan KATA harus dapat membayangkan bahwa dia sedang menyelesaikan suatu pertarungan mengahadapi musuh-musuh yang menyerang dari beberapa penjuru.
Aspek OLAH RAGA, tercakup karena karate merupakan suatu bentuk latihan yang dapat menjaga keseimbangan bahkan meningkatkan kesehatan dan juga menambah kekuatan otot-otot dan bagian tubuh tertentu. Disamping itu KARATE dapat juga dipertandingkan seperti cabang olahraga lainnya, baik itu jenis KUMITE maupun KATA.
Aspek PSIKOLOGI, terlihat karena melalui KARATE-DO pada diri setiap pengikutnya akan dapat ditumbuhkan:
- Jiwa "SATRIO PINANDITO" yang artinya gagah berani, berbudi luhur dan rendah hati.
- Rasa percaya pada diri sendiri.
- Rasa hormat baik pada kawan maupun lawan.
- Sikap sprotif dan disiplin.
Akhirnya sejalan dengan program pemerintah yaitu
"MEMASYARAKATKAN OLAHRAGA DAN MENGOLAHRAGAKAN MASYARAKAT" dengan ini penulis mengaiak para pembaca, MARILAH KITA BEROLAHRAGA KARATE. Ada sebuah ungkapan yang mengatakan : "Berawal dari mengenal kemudian meningkat menjadi suatu keakraban dan akhirnya mencintai". Nah, silahkan mencoba.
Sumber : Artikel diterima by email dari Sensei Eddy Gobel
Inkai Ranting Karate Amboy
September 15, 2017
CB Blogger
IndonesiaSumber : Artikel diterima by email dari Sensei Eddy Gobel
5
Senjata Mematikan di Tubuh Perempuan
Perempuan sering berada dalam posisi terjepit, dan ketakutan ketika menghadapi seorang pengganggu. Namun, entah orang itu hanya ingin iseng mencolek, atau ingin menguasai barang pribadi Anda, seharusnya Anda tidak membiarkannya.
"Perempuan jangan hanya diam, karena jika diam, pelaku akan jauh lebih berani bertindak," tegas Lia Nurlianty, pelatih Woman Self Defence of Kushin Ryu (WSDK), bela diri praktis untuk perempuan, yang bermarkas di kawasan Kopo, Bandung.
Perempuan juga perlu tahu, bahwa ada beberapa bagian dari tubuhnya yang bisa dimanfaatkan untuk membela diri, atau menyerang pengganggunya. Personal trainer dan pemegang sabuk hitam karate, Jennifer Cassetta, menciptakan Stiletto and Self Defense. Workshop-nya ini mengajarkan perempuan modern untuk menghindari situasi berbahaya, menjadi lebih waspada dan percaya diri, bahkan menyerang balik bila diperlukan. Ia memaparkan lima bagian tubuh perempuan yang bisa dijadikan senjata untuk menyerang lawan.
1. Kaki
Gunanya adalah untuk berlari. Jika Anda mendapati diri Anda berada dalam situasi berbahaya, tak perlu langsung berusaha melawan. Pertahanan diri pertama yang bisa Anda lakukan adalah berlari untuk meminta bantuan.
2. Suara
Berteriaklah pada si pengganggu, bila mungkin sumpahi saja dia. Karena teriakan dan sumpah serapah akan membuat penyerang Anda sadar bahwa ia tidak bisa memperlakukan Anda sembarangan. Suara Anda akan menjadi senjata yang ampuh jika digunakan dengan benar, misalnya untuk menarik perhatian orang lain. Tetapi perhatikan cara Anda berteriak. Jangan berteriak dengan suara dari tenggorokan, karena Anda bisa kehilangan suara justru saat Anda membutuhkannya. Tarik suara dari dalam perut.
3. Lutut
Jika Anda tak mampu berlari karena posisi si penyerang sudah keburu dekat dengan Anda, gunakan senjata mematikan yang ada di tubuh Anda ini. Lutut bisa digunakan untuk menendang selangkangan si pengacau. Paling tidak, dia akan langsung terkapar sehingga memberi kesempatan pada Anda untuk melarikan diri. Bila ia masih berusaha menyerang, Anda bisa melancarkan gerakan lain.
4. Siku
Siku juga merupakan senjata untuk serangan jarak dekat. Gunakan siku Anda untuk menyerang dagu, kepala, perut, atau selangkangan juga. Hal ini dimungkinkan karena siku kita terbuat dari tulang-tulang yang padat, dan dapat melukai penyerang Anda. Ketika diserang dari depan, sikutkan tangan Anda ke samping kepalanya, wajah, atau dagu sehingga kepalanya terdongak ke atas. Jika pengganggu itu menarik Anda dari belakang, sikut ulu hatinya untuk membuatnya KO. Atau, sasarkan saja pada area selangkangannya.
5. Jari-jari tangan
Bila posisi Anda dalam cengkeraman si penyerang, dan kepalanya cukup dekat dengan Anda, tikam dengan jari-jari Anda. Gunakan kuku Anda untuk mencolok matanya. Ibu jari juga bisa berfungsi dengan baik, yaitu untuk mendorong kepalanya ke belakang. Dengan demikian, area tubuhnya yang lagi terbuka, dan memungkinkan Anda untuk melonggarkan cengkeramannya. Selanjutnya, segeralah melarikan diri.
Sumber : Kompas
Inkai Ranting Karate Amboy
September 12, 2017
CB Blogger
Indonesia
Nunchaku Tradisional & Modern
![]() |
| Nunchaku awal (kayu kekang kuda) |
Senjata tumpul yang satu ini boleh dibilang sebagai senjata beladiri paling popular di dunia.
Kepopularan nunchaku dimulai ketika mendiang Bruce Lee menggunakan nunchaku dalam aksi laga di sejumlah filmnya.
Sejatinya, nunchaku adalah senjata‘dadakan’ masyarakat Okinawa tempo doeloe. Nunchaku muncul karena kala itu ada larangan dari kerajaan bahwa masyarakat tidak boleh membawa senjata tajam di luar rumah. Bagi yang melanggar, bersiap menghadapi para samurai yang tidak segan menebaskan katana-nya.
![]() |
| Nunchaku melawan pedang |
Kata nunchaku dipercaya berasal dari pelafalan Jepang terhadap istilah Cina untuk tongkat dua bagian (Chang Xiao Ban). Namun bisa saja berasal dari nun (ヌン), berarti "kembar" dan shaku (尺), panjang rata-rata dua bagian nunchaku.
Ada dua versi muasal nunchaku. Kabarnya, nunchaku adalah sepasang kayu kekang kuda yang digunakan sebagai senjata. Kabar lainnya, nunchaku adalah alat pertanian berupa sepasang kayu pendek yang disambung dengan tali berbahan potongan ekor kuda. Gunanya, mengapit ikatan rumpun padi yang baru dipanen untuk dipukulkan sehingga bulir padi mudah lepas.
Terlepas soal dua versi di atas, nunchaku kemudian menjadi senjata resmi seni beladiri kobudo. Modifikasi nunchaku kemudian menjadi beberapa bentuk, ada nunchaku tradisional berbentuk sepasang kayu bulat bersambung tali, adapula nunchaku bersambung rantai untuk kategori nunchaku modern.
![]() |
| Gaya nunchaku modern |
Nunchaku modern juga banyak ragamnya. Sepasang kayu bulat diganti menjadi sepasang besi atau aluminium berbentuk pipa. Adalagi bahan plastik yang di dalamnya menggunakan lampu otomatis. Saat nunchaku dimainkan, lampu tersebut menyala warna-warni
Selain bentuk yang dimodifikasi, teknik permainan nunchaku juga semakin atraktif. Jika versi kobudo tekniknya monoton dan umumnya menggunakan satu nunchaku, maka versi modern tekniknya variatif dan satu atau dua nunchaku sekaligus. Teknik variatif lainnya, nunchaku diputar di sela jemari atau melempar nunchaku ke udara. Bermain nunchaku sambil salto atau melakukan tendangan melompat.
Satu hal mendasar, cara memegang nunchaku gaya tradisional (kobudo) adalah di bagian bawah batang kayunya. Sedangkan gaya modern, tidak terikat aturan, umumnya memegang di bagian atas dekat sambungan kedua batang kayu.
Jika nunchaku tradisional ada rangkaian jurus (kata) yang harus dimainkan, nunchaku modern bebas merangkai koreografi, sesuai improvisasi praktisinya.
Sumber :
http://martialartist-area.blogspot.sg/2011/11/nunchaku-tradisional-modern.html
Inkai Ranting Karate Amboy
September 07, 2017
CB Blogger
IndonesiaSelain bentuk yang dimodifikasi, teknik permainan nunchaku juga semakin atraktif. Jika versi kobudo tekniknya monoton dan umumnya menggunakan satu nunchaku, maka versi modern tekniknya variatif dan satu atau dua nunchaku sekaligus. Teknik variatif lainnya, nunchaku diputar di sela jemari atau melempar nunchaku ke udara. Bermain nunchaku sambil salto atau melakukan tendangan melompat.
Satu hal mendasar, cara memegang nunchaku gaya tradisional (kobudo) adalah di bagian bawah batang kayunya. Sedangkan gaya modern, tidak terikat aturan, umumnya memegang di bagian atas dekat sambungan kedua batang kayu.
Jika nunchaku tradisional ada rangkaian jurus (kata) yang harus dimainkan, nunchaku modern bebas merangkai koreografi, sesuai improvisasi praktisinya.
Sumber :
http://martialartist-area.blogspot.sg/2011/11/nunchaku-tradisional-modern.html























