"Jangan Berpikir Harus Menang. Pikirkan Bahwa Kau Tidak Harus Kalah”

Sunday, November 26, 2017


"Jangan Berpikir Harus Menang. Pikirkan Bahwa Kau Tidak Harus Kalah”


Dalam karate-do ada sebuah nasihat, “kerjakan apa yang benar.” Hingga akhirnya kau akan menjadi pemenang yang sebenarnya….dalam karate dan hidup. Jangan mengukur keberhasilan dengan sesuatu yang ada diluar dirimu sendiri. Kembangkan dalam dirimu, maka sisanya akan mengikuti.


Ingin menang adalah sifat alami manusia. Namun jika kau menginginkannya berlebihan, maka kau akan menjadi tidak seimbang. Saat hilang keseimbangan, kau juga akan kehilangan kemampuan untuk memahami. Kau tidak akan mampu menilai dengan benar. Kau bahkan tidak mampu bergerak dengan benar. Saat berkompetisi tubuhmu tidak akan bergerak dengan semestinya. Dengan keseimbangan kau dapat bergerak ke semua arah kapanpun. Baik fisik maupun emosional.

Kau butuh keseimbangan untuk semua hal dalam hidup ini. Jika kau melihat sebuah masalah hanya dari satu sisi, maka kau tidak akan bisa melihat sebuah kebenaran. Hanya ingin mempunyai kumite yang bagus atau kata yang indah bukanlah karate-do yang baik. Dalam kedua hal ini hanya ada masalah teknik. Seni bela diri yang sebenarnya mencakup ilmu pengetahuan, semangat, emosi dan kecerdasan. Tiap orang memiliki kepribadian yang berbeda. Dengan berlatih karate kau belajar banyak hal tentang dirimu sendiri. Hal yang membuatmu kuat dan hal yang membuatmu lemah. Kau juga akan belajar melihat kekuatan dan kelemahan orang lain. Kau akan belajar sebuah cara baru untuk memandang ke seluruh dunia.



Pada akhirnya kau juga akan belajar bagaimana mengendalikan penampilan dan tindakanmu. Kau akan mendapat pengalaman yang memberimu keahlian dan kemampuan untuk menilai. Ini semua akan dimulai saat kau tinggalkan pikiran tentang menang atau kalah. Dojo adalah tempat berlatih untuk hidup. Turnamen adalah tempat berlatih untuk menang. Dan diantara keduanya ada sebuah pertentangan.



Terlalu banyak menekankan pada kompetisi membuatmu mulai berpikir tentang menang dan kalah. Kemudian kau mulai membandingkan dirimu dengan yang lain. Sangat sering kita melihat seorang kompetitor membuat dirinya kalah akibat berpikir tentang kekuatan dan kelemahan lawannya. Jika kau pikir dirimu lebih kuat, maka kau sudah kalah sejak awal. Hal ini tentu saja bukanlah cara yang baik. Dan jika kau pikir dirimu lebih lemah, maka kau sudah benar-benar kalah.



Semua upaya haruslah dikerjakan dengan 100%, sehingga kau dapat menyelesaikannya dengan kemampuan terbaikmu. Pada saatnya mereka dengan keseimbangan yang terbaiklah yang akan menang. Itulah sebab mengapa kompetisi menjadi hal penting sebagai latihan. Untuk menguji keseimbanganmu, bukan hanya sekedar kemampuan fisikmu.



Saat berlatih jangan pernah berpikir tentang menjadi seorang juara atau mendapatkan sabuk hitam. Teruslah berupaya disertai dengan 100% pikiran yang jernih. Itulah kunci dari seni bela diri, terus berpikir yang sewajarnya yang terus berlanjut hingga sisa hidupmu.



Seni bela diri bukan sekedar mencoba menjadi kuat demi menang kompetisi atau mengalahkan orang lain. Hal itu justru bukanlah bela diri. Seni bela diri adalah berlatih setiap hari untuk memperbaiki dirimu sendiri. Dan jika kau kerjakan dengan benar, jagalah keseimbanganmu, tubuhmu akan mulai bergerak dengan bebas dan sesuai. Akhirnya kau akan mampu menang secara alami.



Saat kau bebaskan dirimu dari maksud tertentu, kau akan mampu melihat semua keinginan lawanmu. Kau tidak perlu merencanakannya karena gerakanmu akan spontan. Kau bergerak dengan terbuka dan bebas.



Master Funakoshi menentang kompetisi. Dia khawatir hal itu akan menghancurkan esensi sebenarnya dari karate. Karena itulah Master Nakayama meyakinkannya bahwa ada nilai-nilai dalam karate yang harus ditunjukkan pada masyarakat luas




Awalnya kamilah yang menjadi kelinci percobaan. Mencoba ide-ide yang berbeda dalam mengatur bagaimana caranya berkompetisi. Arena turnamen kami yang pertama berbentuk lingkaran yang besar, sedang tekniknya diambil langsung dari jiyu ippon kumite. Di kemudian hari kami mengusulkan arena berbentuk persegi yang bahannya kami ambil dari alas tangga pesawat terbang. Demonstrasi itu dilakukan di markas angkatan udara Amerika setelah Perang Dunia II. Hal itu rasanya unik karena menggunakan karate yang sebenarnya senjata untuk perang, namun kali ini sebagai senjata untuk mewujudkan perdamaian.

Setelah melakukan uji coba selama beberapa tahun, kami membuat peraturan yang resmi dan Master Funakoshi menerimanya sebagai percobaan. Sejak awal kami sadar betapa pentingnya peraturan dan wasit. Namun tidak ada seorangpun yang berlatih untuk kompetisi. Awalnya kontestan terbaik adalah Tuan Mikami dan Tuan Kanazawa, yang juga calon instruktur. Mereka hanya berlatih pada kihon, kata dan aplikasinya. Namun saat itu tidak ada latihan kumite. Bahkan sampai sekarang sebagian besar teknik berasal dari kata. Kata menjadi inti atau “kitab suci” dan sejarah dari karate.

Mulanya semua gerakan dalam kumite berbentuk garis lurus seperti kendo. Hanya saja tekniknya dilancarkan dengan tenaga penuh. Sekarang gerakan dalam kompetisi sangat bebas, namun teknik hanya dibatasi pada gyaku-zuki dan mae-geri. Setelah kompetisi All-Japan yang keenam kami mulai mencari teknik yang lebih spesifik. Satu orang memukul, sementara yang lain dengan menendang. Master Nakayama tidak pernah merasa nyaman dengan model latihan seperti ini, namun dirinya tetap membiarkan kompetisi berkembang. Dan dengan hati-hati kami tetap mencari karate sejati dalam turnamen kumite. - Teruyuki Okazaki - (Fokushotokan)

Artikel ini ditulis oleh Teruyuki Okazaki (instruktur kepala ISKF) dengan judul “Do not think you have to win. Think that you do not have to lose”. Editing dan alih bahasa oleh Fokushotokan.


November 26, 2017

0 komentar:

Post a Comment