Home » All posts
Misteri Tora no Maki
Selain berlatih karate pada Azato dan Itosu, Funakoshi juga belajar seni sastra pada gurunya ini. Tampaknya hal ini berpengaruh besar pada munculnya simbol harimau yang kemudian lazim dikenal dengan Tora no Maki yang digunakan oleh Shotokan dan Shotokai saat ini.
Ketika Funakoshi masih muda, dia
gemar berjalan-jalan dalam kesunyian diantara pohon-pohon cemara yang mengelilingi rumahnya di Shuri, Okinawa. Setelah sehari yang berat diisi dengan mengajar di beberapa sekolah di daerahnya ditambah beberapa jam lebih diisi dengan latihan karate yang giat, dia kerap kali akan mendaki Gunung Torao dan kemudian bermeditasi diantara pepohonan cemara dibawah bintang-bintang dan bulan yang terang. Gunung Torao amatlah dekat, gunung ini ditumbuhi pepohonan hingga begitu lebatnya yang apabila diamati dari kejauhan menyerupai ekor seekor harimau. Dalam kenyataannya nama Torao memang berarti ekor harimau.Pada waktu-waktu berikutnya, Funakoshi menerangkan bahwa angin dingin yang berdesir diantara pepohonan cemara di Gunung Torao membuat pohon-pohon tersebut bergerak seperti layaknya gelombang yang memecah di pantai. Demikianlah, sejak didapatkannya inspirasi itu dia memilih nama Shoto yang selalu dibubuhkannya sebagai tanda tangan di akhir karya tulisnya.
“Shoto” sebagai nama yang ditulis oleh Funakoshi memiliki arti pohon cemara yang bergerak laksana gelombang. Sedangkan “kan” berarti ruang atau balai utama yang kemungkinan besar tempat murid-muridnya berlatih. Nama ini kemudian dianugerahkan oleh murid-muridnya sebagai penghormatan pada Funakoshi dengan ditulis pada papan nama dojo yang dibangun di Tokyo tahun 1936.
Munculnya simbol harimau yang dikerjakan oleh Hoan Kosugi ini tidak begitu jelas. Sumber pertama menyebutkan ketika Funakoshi berniat kembali ke Okinawa dirinya didatangi oleh Hoan Kosugi. Seorang pelukis ternama saat itu yang meminta pelajaran karate bagi dirinya dan teman-temannya di Kelompok Tabata. Perkumpulan ini adalah wadah berkumpulnya para seniman yang terbaik di masa itu. Kosugi meminta pelajaran dari Funakoshi karena saat itu dia tidak menemukan guru karate yang lebih pantas dari Funakoshi.
Ketika itu Funakoshi berniat menulis buku Ryukyu Kempo Karate, Kosugi mengatakan pada Funakoshi kalau dirinya bersedia melukis sampul depannya. Kosugi kemudian melukis gambar harimau yang disebutnya Tora no Maki. Di Jepang istilah Tora no Maki merupakan istilah resmi bagi karya tulis untuk suatu seni atau suatu sistem. Kosugi menjelaskan pada Funakoshi bahwa buku yang akan ditulisnya akan menjadi “Tora no Maki” nya karate. Dan sejak kata “tora” berarti harimau, Kosugi melukis gambar harimau sebagai simbolnya.
Sumber lain mengatakan kalau Kosugi sangat terkesan dengan latihan karate yang diterimanya dari Funakoshi. Kemudian ketika didengarnya Funakoshi akan menulis buku dengan segera dia mengusulkan diri untuk melukis sampulnya. Dikatakan bahwa Kosugi mengambil ide harimau karena menurut kepada filosofi tradisional Cina yang mempunyai makna bahwa ’’harimau tidak pernah tidur’’. Harimau mempunyai sifat yang tenang namun tetap waspada. Perasaan ini dirasakan oleh Kosugi ketika berlatih dibawah Funakoshi. Tampaknya makna ini dikemudian menjadi sangat populer.
Funakoshi sangat terkesan ketika diterimanya hasil karya Kosugi ini. Mengingatkannya akan kenangan masa mudanya ketika masih mendaki gunung Torao. Funakoshi berniat membayar hasil karya ini, namun Kosugi menolaknya. Kosugi hanya meminta Funakoshi mengajarinya karate berikut filosofi besar yang terkandung didalamnya. Terharu mendengar jawaban ini, Funakoshi menerima tawaran itu dan merekapun terus menjalin persahabatan baik.
Ada juga sumber yang mengatakan bahwa Funakoshi sendiri yang meminta pada Kosugi untuk melukis simbol harimau itu baginya. Setelah diketahuinya Kosugi adalah seorang pelukis yang pandai.
Tidak dapat dipastikan mana yang pasti dari kisah-kisah itu. Barangkali diantara kisah-kisah itu ada yang benar. Namun yang pasti Funakoshi kemudian menggunakan lukisan harimau itu sebagai sampul depan bukunya Ryukyu Kempo Karate yang terbit tahun 1922.
Setelah meninggalnya Funakoshi seluruh aset, dokumen berikut lukisan harimau diserahkan kepada Shigeru Egami oleh keluarga Funakoshi. Egami sendiri di kemudian hari tetap pada Shotokai sebagai organisasinya.(Indoshotokan)
TRADISI KARATEKA INKAI
Salam Karate... OSH!!!
Etika bagi sesama karateka adalah mengucapkan lafal “OSH” yang merupakan singkatan dari “OSHINABU” yang mengandung arti pantang menyerah. Apabila seorang karateka bertemu dengan kohai (=adik seperguruan) atau senpai (=kakak seperguruan) maupun sensei (=guru [DAN III keatas]) maka ia sebaiknya mengucapkan salam tersebut yang diawali dengan sikap badan siap lalu membungkukkan badan, sehingga dengan cara tersebutlah (karate-do) karateka menunjukkan rasa respeknya. Osh juga berarti “saya mengerti” dan “terima kasih”.Upacara Dilakukan pada saat sebelum dan sesudah latihan karate, ujian kenaikan tingkat (Kyu maupun DAN), demonstrasi pertandingan, rapat lengkap organisasi dan kongres.
Upacara tradisi karate terdiri dari :
1. Menyiapkan karateka secara tata upacara karate.
2. Pembacaan Sumpah Karate.
3. Mengucapkan Sumpah Karate
- Sanggup Memelihara Kepribadian
- Sanggup Patuh pada kejujuran
- Sanggup Memp[ertinggi Prestasi
- Sanggup Memp[ertinggi Prestasi
- Sanggup Menjaga sopan santun
- Sanggup Menguasai diri
4. Menenangkan pikiran (makusho).
5. Penghormatan terhadap bendera negara, serta lambang perguruan serta induk organisasi.
- Hormat kepada
- Bendera Merah Putih
- Lambang Forki
- Lambang Perguruan INKAI
6. Penghormatan lengkap terhadap pelatih, sesama karateka, dan tempat latihan (dojo).
7. Hormat Kepada Sensei, Senpei, Kohai dan Dojo
Tata cara upacara karate disusun sebagai berikut
- Barisan disusun secara senioritas berurut dari kanan ke kiri.
- Pimpinan upacara adalah Majelis Sabuk Hitam yang mengambil tempat didepan barisan (saf) kohai.
- Pengucapan sumpah karate oleh tingkatan kyu paling senior.
- Upacara diusahakan tersedia bendera negara dan bendera perguruan serta induk organisasi olah raga.
- Upacara yang dihadiri lebih dari satu orang majelis sabuk hitam maka barisan disusun secara senioritas mulai dari paling kanan barisan.
Inkai Ranting Karate Amboy
August 25, 2015
CB Blogger
IndonesiaSejarah Karate
Menurut sejarah, Okinawa sebelum menjadi bagian dari Jepang adalah suatu wilayah berbentuk kerajaan yang bebas merdeka. Pada waktu itu Okinawa
mengadakan hubungan dagang dengan pulau-pulau tetangga. Dan memang Okinawa mendapatkan pengaruh yang kuat akan budaya Cina. Sebagai pengaruh pertukaran budaya itu banyak orang-orang Cina dengan latar belakang yang bermacam-macam datang ke Okinawa mengajarkan bela dirinya pada orang-orang setempat. Yang di kemudian hari menginspirasi nama kata seperti Jion yang mengambil nama dari biksu Budha. Sebaliknya orang-orang Okinawa juga banyak yang pergi ke Cina lalu kembali ke Okinawa dan mengajarkan ilmu yang sudah diperoleh di Cina.
Pada tahun 1477 Raja Soshin di Okinawa memberlakukan larangan pemilikan senjata bagi golongan pendekar. Tahun 1609 Kelompok Samurai Satsuma
dibawah pimpinan Shimazu Iehisa masuk ke Okinawa dan tetap meneruskan larangan ini. Bahkan mereka juga menghukum orang-orang yang melanggar larangan ini. Sebagai tindak lanjut atas peraturan ini orang-orang Okinawa berlatih Okinawa-te (begitu mereka menyebutnya) dan Ryukyu Kobudo (seni senjata) secara sembunyi-sembunyi. Latihan selalu dilakukan pada malam hari untuk menghindari intaian. Tiga aliranpun muncul masing-masing memiliki ciri khas yang namanya sesuai dengan arah asalnya, yaitu : Shurite , Nahate dan Tomarite.
Namun demikian pada akhirnya Okinawate mulai diajarkan ke sekolah-sekolah dengan Anko Itosu (juga mengajari Funakoshi) sebagai instruktur pertama
sekitar awal tahun . Dan tidak lama setelah itu Okinawa menjadi bagian dari Jepang, membuka jalan bagi karate masuk ke Jepang. Gichin Funakoshi ditunjuk mengadakan demonstrasi karate di luar Okinawa bagi orang-orang Jepang.
Gichin Funakoshi dilahirkan di
Yamakawa Shuri, Okinawa, pada tahun 1868, Funakoshi belajar karate pada Azato dan Itosu. Setelah berlatih begitu lama, pada tahun 1916 (ada yang pula yang mengatakan 1917) Funakoshi diundang ke Jepang untuk mengadakan demonstrasi di Nippon Butokukai Kyoto yang merupakan pusat dari seluruh bela diri Jepang saat itu.
Selanjutnya pada tahun 1921, putra mahkota yang kelak akan menjadi kaisar Jepang datang ke Okinawa dan meminta Funakoshi untuk demonstrasi. Bagi
Funakoshi undangan ini sangat besar artinya karena demonstrasi itu dilakukan di arena istana. Tahun 1922 Setelah demonstrasi kedua ini Funakoshi seterusnya tinggal di Jepang di sebuah asrama untuk pelajar.
Selama di Jepang pula Funakoshi banyak menulis buku-bukunya yang terkenal hingga sekarang. Seperti "Ryukyu Kempo : Karate" dan "Karate-do Kyohan".
Buku-bukunya masih dianggap sebagai salah satu karya terbaik dalam dunia karate sekaligus pioner buku karate di masa itu. Dan sejak saat itu klub-klub karate terus bermunculan baik di sekolah dan universitas.
Gichin Funakoshi selain ahli karate juga pandai dalam sastra dan kaligrafi. Nama Shotokan diperolehnya sejak kegemarannya mendaki gunung Torao (yang
dalam kenyataannya berarti ekor harimau). Dimana dari sana terdapat banyak pohon cemara ditiup angin yang bergerak seolah gelombang yang memecah dipantai. Terinspirasi oleh hal itu Funakoshi menulis sebuah nama "Shoto" sebuah nama yang berarti kumpulan cemara yang bergerak seolah gelombang, dan "Kan" yang berarti ruang atau balai utama tempat
muridnya-muridnya berlatih.
Simbol harimau yang digunakan karate Shotokan yang dilukis oleh Hoan Kosugi (salah satu murid pertama Funakoshi), mengarah kepada filosofi tradisional Cina yang mempunyai makna bahwa ’’harimau tidak pernah tidur’’. Digunakan dalam karate Shotokan karena bermakna kewaspadaan dari harimau yang sedang terjaga dan juga ketenangan dari pikiran yang damai yang dirasakan Gichin Funakoshi ketika sedang mendengarkan suara gelombang pohon cemara
dari atas Gunung Torao.
Sekalipun Funakoshi tidak pernah memberi nama pada aliran karatenya, murid-muridnya mengambil nama itu untuk dojo yang didirikannya di Tokyo tahun sekitar tahun 1936 sebagai penghormatan pada sang guru. Selanjutnya pada tahun 1949 Japan Karate Association (JKA) berdiri dengan Gichin Funakoshi sebagai guru besar.
Shotokan adalah karate yang
mempunyai ciri khas beragam teknik lompatan (lihat Enpi, Kanku dai, Kanku sho dan Unsu), gerakan yang ringan dan cepat. Membutuhkan ketepatan waktu dan tenaga untuk melancarkan suatu teknik. Shotokan juga menggunakan kuda-kuda yang lebih lebar dan pukulan yang kuat.
Gichin Funakoshi percaya bahwa akan membutuhkan waktu seumur hidup untuk menguasai manfaat dari kata. Dia memilih kata yang yang terbaik untuk
penekanan fisik dan bela diri.
Yang mana mempertegas keyakinannya bahwa karate adalah sebuah seni daripada olah raga. Baginya kata adalah karate. Funakoshi meninggal pada tanggal 26 April 1957.
Funakoshi diangkat sebagai Bapak Karate Moderen karena usahanya yang terus menerus melakukan modernisasi dalam karate. Sebagai penghargaan kepadanya dibangun sebuah monumen di kuil Enkakuji. Hingga kini 4 besar aliran karate di Jepang yaitu Shotokan, Gojuryu, Wadoryu dan Shitoryu.Gichin Funakoshi
Jika ada laki-laki yang dipercaya menempatkan karate sampai dapat diterima
di Jepang, dan pada posisi yang dapat dinikmati oleh orang-orang Jepang, dialah Gichin Funakoshi. Dilahirkan di Yamakawa Prefektur Shuri Okinawa tanggal 10 November 1868, Funakoshi masih memiliki garis darah keturunan keluarga samurai salah satu bangsawan di Okinawa. Funakoshi terlahir bukan sebagai anak yang sehat karena seringnya sakit-sakitan. Namun dari ketekunannya mampu menjadikannya Shotokan sebagai salah satu aliran karate yang tidak hanya empat besar di Jepang namun terbesar didunia.
Akibat kondisi fisiknya yang kurang
baik, orang tuanya membawanya pada Azato dan Itosu untuk belajar karate. Selain dari mereka Funakoshi juga menerima pelajaran dari Arakaki Seisho (yang dipercaya menemukan kata Unsu) dan Sokon Matsumura yang merupakan tokoh sentral dari tidak hanya 4 besar aliran karate di Jepang namun juga aliran karate lain.
Funakoshi diberikan kepercayaan oleh para tokoh bela diri di Okinawa membawa karate ke Jepang. Sekitar tahun 1916 demonstrasi pertama karate diluar
Okinawa dilangsungkan. Butokuden yang saat itu adalah pusat seni bela diri dan olahraga Jepang masa itu dipilih sebagai tempat untuk melakukan demonstrasi. Namun sayang sekali demonstrasi itu tidak berlangsung sukses, hal itu karena kebanyakan orang Jepang tidak tertarik dengan bela diri tangan kosong. Karena saat itu sudah ada Naginata (bela diri bersenjata tongkat dengan pisau tajam diujungnya) dan kendo yang merupakan penerus dari teknik samurai.
Walau demikian tawaran demonstrasi berikutnya datang dari calon putra mahkota negeri Jepang yang berkunjung ke Okinawa. Dan sekitar tahun 1922 awal
musim panas Funakoshi kembali melakukan demonstrasi di Tokyo atas prakarsa Menteri Pendidikan Jepang. Demonstrasi ini berjalan sukses, Jigaro Kano (salah satu pendiri Judo) sangat terkesan dengan demonstrasi itu dan meminta Funakoshi tinggal di Jepang. Sejak saat itu Funakoshi tinggal di Jepang.
Selama di Jepang Funakoshi tinggal di Suidobata, sebuah asrama kecil di Tokyo. Siang hari Funakoshi bekerja sebagai tukang kebun dan penjaga asrama. Untuk membayar makanannya, Funakoshi membujuk koki diasrama itu dan sebagai ganti diajarinya karate. Dan sejak saat itu banyak bermunculan klub karate baik di sekolah maupun universitas. Begitu antusiasnya orang-orang Jepang berlatih karate, sampai-sampai sulit ditemukan tempat kosong untuk berlatih. Tiap hari diisi dengan latihan karate di hampir seluruh pelosok Jepang.
Di Jepang langkah modernisasi
karate yang dilakukan Gichin Funakoshi diantaranya pengubahan huruf kanji karate yang sebelumnya lebih bermakna Cina kini dengan dialek Jepang berikut huruf kanjinya namun dengan pengucapan yang sama. Untuk penegasan pengubahan dialek dan penulisannya, dalam bukunya Karate-do Kyohan yang terbit tahun 1936 Funakoshi menggunakan perubahan ini.
Selain itu juga pengubahan dan penulisan nama-nama kata yang sebelumnya masih menggunakan dialek Okinawa. Hal itu penting dilakukan agar karate dapat diterima oleh budaya Jepang. Selama di Jepang pula Funakoshi menulis buku-buku yang terkenal sampai sekarang. Setelah Karate-do Kyohan adalah buku Karate-do Nyumon yang diterbitkan tahun 1943.
Sekitar tahun 1936 dojo yang pertama berdiri di Meishojuku. Murid-murid Funakoshi menganugerahkan nama Shotokan pada papan nama perguruan
sebagai penghormatan dan penghargaan pada Funakoshi. Walau demikian, sebenarnya Funakoshi tidak pernah memberikan nama apapun pada alirannya. Namun sayangnya dojo ini hancur karena saat itu Jepang dilanda serangan pasukan sekutu. Setelah perang tahun 1949 pengikut Funakoshi kembali bersatu, dan mendirikan sebuah wadah yang bernama Asosiasi Karate Jepang
(Japan Karate Association) dengan Gichin Funakoshi sebagai instruktur kepala.
Funakoshi sangat menekankan
murid-muridnya agar menguasai teknik-teknik dasar sebelum belajar tingkat lanjut. Adalah keyakinan Funakoshi bahwa karate adalah seni bela diri daripada olah raga. Bagi Funakoshi kata adalah karate. Dalam
bukunya Karate-do Kyohan Funakoshi menyatakan,’’Beberapa anak muda antusias pada karate percaya bahwa karate hanya bisa dipelajari lewat instruktur di dojo. Walaupun kebanyakan dari mereka adalah orang yang mahir teknik, tetapi bukanlah karateka sejati. Sebuah nasihat bijak berkata bahwa semua tempat dapat menjadi dojo, dan itu berarti setiap
orang yang ingin mengikuti jalan karate tidak boleh lupa hal ini. Karate-do tidak hanya berlatih cara membela diri tapi juga menguasai seni untuk menjadi bagian anggota masyarakat yang baik dan jujur.’’
Hal ini juga yang mempertegas keyakinannya untuk mencari kesempurnaan karakter dari berlatih karate daripada sekedar memecahkan rekor atau
prestasi. Gichin Funakoshi meninggal pada tanggal 26 April 1957.
Apakah karate itu ?

Karate berasal dari pengucapan dalam bahasa Okinawa “Kara” yang berarti Cina dan “Te” yang bararti tangan. Selanjutnya arti dari dua pengucapan itu
adalah tangan Cina, teknik Cina, tinju Cina (pada masa lampau). Selanjutnya sekitar tahun 1931 Gichin Funakoshi – dikenal sebagai Bapak Karate Moderen – mengubah istilah karate kedalam huruf kanji Jepang yang terdengar lebih baik. Tahun 1936 Karatedo Kyohan Funakoshi diterbitkan dengan menggunakan istilah karate dalam huruf kanji Jepang. Dalam
pertemuan bersama para master di Okinawa makna yang sama diambil. Dan sejak saat itu istilah “karate” dengan huruf kanji berbeda namun pengucapan dan makna yang sama digunakan sampai sekarang.
Karate berasal dari dua kata dalam huruf kanji “kara” yang bermakna kosong dan “te” yang berarti tangan. Karate berarti sebuah seni bela diri yang
memungkinkan seseorang mempertahankan diri tanpa senjata. Menurut Gichin Funakoshi karate mempunyai banyak arti yang lebih condong kepada hal yang bersifat filsafat. Istilah “kara” dalam karate bisa pula disamakan seperti cermin bersih yang tanpa cela yang mampu menampilkan bayangan benda yang dipantulkannya sebagaimana aslinya. Ini berarti orang yang
belajar karate harus membersihkan dirinya dari keinginan dan pikiran jahat.
Selanjutnya Gichin Funakoshi menjelaskan makna kata “kara” pada karate mengarah kepada sifat kejujuran, rendah hati dari seseorang. Walaupun demikian sifat kesatria tetap tertanam dalam kerendahan hatinya, demi keadilan berani maju sekalipun berjuta
lawan tengah menunggu. Demikianlah makna yang terkandung dalam karate.
Karena itulah seseorang yang belajar karate sepantasnya tidak hanya memperhatikan sisi teknik dan fisik, melainkan juga memperhatikan sisi
mental yang sama pentingnya. Seiring usia yang terus bertambah, kondisi fisik akan terus menurun namun kondisi mental seorang karateka yang diperoleh lewat latihan yang lama akan membentuk kesempurnaan karakter.
Akhiran kata “Do” pada karate-do memiliki makna jalan atau arah. Suatu filosofi yang diadopsi tidak hanya oleh karate tapi kebanyakan seni bela diri
Jepang dewasa ini (Kendo, Judo, Kyudo, Aikido, dll)
Inkai Ranting Karate Amboy
August 25, 2015
CB Blogger
IndonesiaAPAKAH KARATE ITU?
Di Okinawa, sebuah seni bela diri yang misterius namun ajaib telah datang kepada kita. Diceritakan bahwa orang yang mampu menguasai tekniknya dapat dengan mudah membela diri tanpa bantuan senjata sekaligus dapat melakukan atraksi yang luar biasa: memecahkan beberapa
papan kayu tebal dengan tinjunya, atau bingkai ruangan (admin: kusen pintu atau jendela) dengan sebuah tendangan.
Dengan shuto (tangan pisau) dia dapat membunuh seekor sapi dengan serangan tunggal. Menghancurkan paha kuda dengan tangan terbukanya. Dia dapat menyeberangi ruangan dengan bergelantungan di balok kayu dan langit-langit dengan jarinya. Menghancurkan batang bambu hijau dengan dengan tangan kosong. Memutuskan sebuah tali yang kuat dengan sekali tarikan atau menghancurkan batu dengan tangannya.
Beberapa hal yang misterius dan ajaib tersebut menjadi inti dari Karate-do. Tetapi atraksi seperti itu hanyalah bagian kecil dari karate. Sama seperti ujian menebas dalam kendo (seni pedang Jepang). Dan adalah keliru jika menganggap Karate-do tidak lebih dari ini.
Kenyataannya, Karate-do sejati lebih banyak menitik beratkan pada aspek spiritual daripada masalah fisik. Karate-do sejati adalah seperti ini: dalam kesehariannya pikiran dan tubuh dilatih dan dikembangkan dalam semangat kerendahan hati. Dan di saat-saat kritis mereka akan mengeluarkan segenap kemampuannya demi keadilan.
KARA
Karate-do adalah seni bela diri yang asal-usulnya berasal dari Okinawa. Meski di masa lalu sempat dibingungkan dengan tinju Cina karena menggunakan huruf Cina “kara” di namanya yang paling depan. Kenyataannya, selama ratusan tahun para ahli di Okinawa telah melatih dan menyempurnakannya hingga menjadi sebuah seni bela diri terpadu seperti yang terlihat pada hari ini. Karena itu jelaslah bahwa Karate-do adalah seni bela diri Okinawa.
Seseorang bisa jadi bertanya-tanya mengapa huruf Cina “kara” digunakan sampai begitu lama. Seperti yang telah kusebutkan di bagian “Perkembangan Karate-do,” aku percaya saat itu pengaruh budaya Cina sedang mencapai puncaknya di Jepang. Banyak ahli bela diri mengadakan perjalanan ke Cina demi berlatih Tinju Cina.
Dengan pengetahuan barunya mereka mengubah seni bela diri yang sudah ada yang kemudian disebut dengan Okinawa-te. Mereka mengganti hal-hal yang kurang sesuai, menambahkan nilai-nilai yang baik kedalamnya, dan menjadikannya sebagai seni yang lebih baik. Diduga mereka juga menyebut “kara” (masih dengan huruf Cina) dengan nama yang baru.
Karena saat itu di Jepang kebanyakan orang terpesona dengan budaya asing, tidak sulit dibayangkan tingginya penghargaan pada budaya Cina selama periode itu di Okinawa. Bahkan saat penulis masih muda, tidak adanya perabot buatan Cina di rumah keluarga yang terpandang akan menjadi masalah serius untuknya dalam bermasyarakat. Atas dasar inilah alasan menggunakan huruf Cina “kara” yang lebih bermakna “Cina” muncul sebagai sebuah fakta yang unik.
Karena mengikuti tradisi, penulis di masa lalu terus menggunakan huruf Cina. Namun demikian, karena sering membingungkan dengan Tinju Cina, dan kenyataan bahwa seni bela diri Okinawa telah menjadi bagian dari seni bela diri Jepang, menggunakan huruf lama “kara” terkesan merendahkan dan tidak lagi sesuai. Berdasarkan alasan inilah – di samping banyaknya protes – penulis telah meninggalkannya dan mengganti dengan huruf “kara” yang baru.
MAKNA DARI KARA
Arti pertama untuk “kara” menunjukkan bahwa karate adalah sebuah teknik yang memungkinkan seseorang membela diri dengan tinju dan tangan kosong tanpa senjata.
Kedua, sama seperti cermin bersih yang memantulkan bayangan tanpa cela, atau lembah kosong yang mengeluarkan gema suara. Jadi orang yang belajar Karate-do harus membersihkan diri dari sifat egois dan pikiran jahat. Hanya dengan pikiran dan hati yang jernih dia dapat memahami apa yang diterimanya. Ini adalah arti lain dari elemen “kara” dalam Karate-do.
Berikutnya, dia yang belajar Karate-do harus selalu berusaha rendah hati dan lemah lembut. Walau demikian, ketika dia memutuskan untuk membela keadilan, maka dia harus menunjukkan keberanian seperti pepatah,”Sekalipun ada sepuluh juta musuh, aku akan maju!” Demikianlah, dia ibarat batang bambu hijau yang bersih (kara) dalam hatinya, jujur, tidak egois, ramah dan bijaksana. Arti ini juga terkandung pada elemen “kara” dalam Karate-do.
Akhirnya, dalam hal yang paling mendasar, bentuk alam semesta ini adalah kekosongan (kara) dan kekosongan adalah bentuk itu sendiri. Begitu banyak seni bela diri: judo, kendo, sojitsu (teknik tombak), bojitsu (teknik tongkat) dan lain-lain. Namun pada tingkat yang paling dasar semuanya sama dengan Karate-do.
Tidaklah berlebihan jika dikatakan tujuan mendasar Karate-do adalah sama dengan semua seni bela diri. Berisi adalah kekosongan, kekosongan adalah berisi itu sendiri. “Kara” pada Karate-do juga mempunyai arti ini. (Indoshotokan)
Artikel ini berjudul asli “What is Karate?” yang berasal dari bagian pendahuluan buku “Karate-do Kyohan” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi (1973). Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.
Inkai Ranting Karate Amboy
August 25, 2015
CB Blogger
IndonesiaDengan shuto (tangan pisau) dia dapat membunuh seekor sapi dengan serangan tunggal. Menghancurkan paha kuda dengan tangan terbukanya. Dia dapat menyeberangi ruangan dengan bergelantungan di balok kayu dan langit-langit dengan jarinya. Menghancurkan batang bambu hijau dengan dengan tangan kosong. Memutuskan sebuah tali yang kuat dengan sekali tarikan atau menghancurkan batu dengan tangannya.
Beberapa hal yang misterius dan ajaib tersebut menjadi inti dari Karate-do. Tetapi atraksi seperti itu hanyalah bagian kecil dari karate. Sama seperti ujian menebas dalam kendo (seni pedang Jepang). Dan adalah keliru jika menganggap Karate-do tidak lebih dari ini.
Kenyataannya, Karate-do sejati lebih banyak menitik beratkan pada aspek spiritual daripada masalah fisik. Karate-do sejati adalah seperti ini: dalam kesehariannya pikiran dan tubuh dilatih dan dikembangkan dalam semangat kerendahan hati. Dan di saat-saat kritis mereka akan mengeluarkan segenap kemampuannya demi keadilan.
KARA
Karate-do adalah seni bela diri yang asal-usulnya berasal dari Okinawa. Meski di masa lalu sempat dibingungkan dengan tinju Cina karena menggunakan huruf Cina “kara” di namanya yang paling depan. Kenyataannya, selama ratusan tahun para ahli di Okinawa telah melatih dan menyempurnakannya hingga menjadi sebuah seni bela diri terpadu seperti yang terlihat pada hari ini. Karena itu jelaslah bahwa Karate-do adalah seni bela diri Okinawa.
Seseorang bisa jadi bertanya-tanya mengapa huruf Cina “kara” digunakan sampai begitu lama. Seperti yang telah kusebutkan di bagian “Perkembangan Karate-do,” aku percaya saat itu pengaruh budaya Cina sedang mencapai puncaknya di Jepang. Banyak ahli bela diri mengadakan perjalanan ke Cina demi berlatih Tinju Cina.
Dengan pengetahuan barunya mereka mengubah seni bela diri yang sudah ada yang kemudian disebut dengan Okinawa-te. Mereka mengganti hal-hal yang kurang sesuai, menambahkan nilai-nilai yang baik kedalamnya, dan menjadikannya sebagai seni yang lebih baik. Diduga mereka juga menyebut “kara” (masih dengan huruf Cina) dengan nama yang baru.
Karena saat itu di Jepang kebanyakan orang terpesona dengan budaya asing, tidak sulit dibayangkan tingginya penghargaan pada budaya Cina selama periode itu di Okinawa. Bahkan saat penulis masih muda, tidak adanya perabot buatan Cina di rumah keluarga yang terpandang akan menjadi masalah serius untuknya dalam bermasyarakat. Atas dasar inilah alasan menggunakan huruf Cina “kara” yang lebih bermakna “Cina” muncul sebagai sebuah fakta yang unik.
Karena mengikuti tradisi, penulis di masa lalu terus menggunakan huruf Cina. Namun demikian, karena sering membingungkan dengan Tinju Cina, dan kenyataan bahwa seni bela diri Okinawa telah menjadi bagian dari seni bela diri Jepang, menggunakan huruf lama “kara” terkesan merendahkan dan tidak lagi sesuai. Berdasarkan alasan inilah – di samping banyaknya protes – penulis telah meninggalkannya dan mengganti dengan huruf “kara” yang baru.
MAKNA DARI KARA
Arti pertama untuk “kara” menunjukkan bahwa karate adalah sebuah teknik yang memungkinkan seseorang membela diri dengan tinju dan tangan kosong tanpa senjata.
Kedua, sama seperti cermin bersih yang memantulkan bayangan tanpa cela, atau lembah kosong yang mengeluarkan gema suara. Jadi orang yang belajar Karate-do harus membersihkan diri dari sifat egois dan pikiran jahat. Hanya dengan pikiran dan hati yang jernih dia dapat memahami apa yang diterimanya. Ini adalah arti lain dari elemen “kara” dalam Karate-do.
Berikutnya, dia yang belajar Karate-do harus selalu berusaha rendah hati dan lemah lembut. Walau demikian, ketika dia memutuskan untuk membela keadilan, maka dia harus menunjukkan keberanian seperti pepatah,”Sekalipun ada sepuluh juta musuh, aku akan maju!” Demikianlah, dia ibarat batang bambu hijau yang bersih (kara) dalam hatinya, jujur, tidak egois, ramah dan bijaksana. Arti ini juga terkandung pada elemen “kara” dalam Karate-do.
Akhirnya, dalam hal yang paling mendasar, bentuk alam semesta ini adalah kekosongan (kara) dan kekosongan adalah bentuk itu sendiri. Begitu banyak seni bela diri: judo, kendo, sojitsu (teknik tombak), bojitsu (teknik tongkat) dan lain-lain. Namun pada tingkat yang paling dasar semuanya sama dengan Karate-do.
Tidaklah berlebihan jika dikatakan tujuan mendasar Karate-do adalah sama dengan semua seni bela diri. Berisi adalah kekosongan, kekosongan adalah berisi itu sendiri. “Kara” pada Karate-do juga mempunyai arti ini. (Indoshotokan)
Artikel ini berjudul asli “What is Karate?” yang berasal dari bagian pendahuluan buku “Karate-do Kyohan” yang ditulis oleh Gichin Funakoshi (1973). Editing dan alih bahasa oleh Bachtiar Effendi.
MAKNA TINGKATAN SABUK DALAM KARATE
Karate merupakan olahraga beladiri yang mempunyai ciri khas yang bisa dibedakan dari jenis olahraga beladiri lainnya seperti silat, judo, dan lainnya. Perbedaan itu bisa dilihat secara filosofi, teknik gerakan, dan juga atribut yang dipergunakan selama proses latihan, pertandingan maupun ujian. Salah satu perbedaan dalam atribut ini yakni peralatan dan perlengkapan dalam yang dipergunakan seperti baju dan sabuk. Meski antara karate dan judo ada kesamaan sistem peringkat yang
dibedakan berdasarkan warna sabuk, karena karate meniru sistem judo dalam sistem pemeringkatan ini sebagaimana yang diakui oleh Master Gichin Funakoshi.
DOGI
Pakaian karate dalam istilah karate ( jepang ) disebut “DOGI”. Pakaian karate didesain seperti “kimono” (pakaian tradisional jepang). Terbuat dari bahan yang beragam yang memiliki kekuatan berbeda pula. Warna dasar pakaian resmi karate adalah putih. Terdiri dari 2 (dua) bagian, yaitu baju (Uwagi) dan celana (Zubon) yang dilekatkan pada pakaian karate sebuah ikat pinggang (Obi) yang memiliki warna berdasarkan tingkatan.
DOGI
Pakaian karate dalam istilah karate ( jepang ) disebut “DOGI”. Pakaian karate didesain seperti “kimono” (pakaian tradisional jepang). Terbuat dari bahan yang beragam yang memiliki kekuatan berbeda pula. Warna dasar pakaian resmi karate adalah putih. Terdiri dari 2 (dua) bagian, yaitu baju (Uwagi) dan celana (Zubon) yang dilekatkan pada pakaian karate sebuah ikat pinggang (Obi) yang memiliki warna berdasarkan tingkatan.
Arti Warna Sabuk Karate
Sabuk
dalam Karate memiliki lebar 1.5 inci (atau kurang dari 4 cm) dan
panjang sekitar 100 inci atau 2,56 meter.(All-Karate.com, 2006).
Dalam karate, warna sabuk (obi) membedakan satu karateka dengan karateka lain. Karateka dasar dimulai dari sabuk putih, sabuk yang digunakan untuk pemula dalam memulai belajar karate. Secara filosofis, perbedaan sabuk karate ini untuk menunjukkan bahwa karateka harus menjunjung tinggi sikap saling menghomati satu sama lain. Karateka yang baru belajar atau pemula harus menghormati karateka yang sudah lebih tinggi sabuk yang diraihnya, meski secara umur lebih muda. Maupun karateka yang sudah meraih sabuk lebih tinggi dari yang lainnya, wajib untuk menghargai dan menghormati pula karateka yang baru belajar. Sikap ini sejalan dengan prinsip karate yang dijelaskan oleh Gichin Funakoshi bahwa karate diawali dan diakhiri oleh sikap menghormati dan saling menghargai.
Obi sebagai sistem pemeringkatan dengan menggunakan ukuran kyu (yang kadang berbeda dari satu perguruan dan perguruan lain) merupakan bentuk representasi dari karate dalam menunjukkan bahwa karateka harus berproses dalam semua tujuan yang diinginkan. Untuk menjadi sekedar sabuk hitam, harus mulai belajar dasar. Untuk mengejar nilai kebaikan melalui perolehan sabuk hitam, harus belajar dari dasar. Kecuali untuk tokoh yang memberikan kontribusi dan dukungan nyata terhadap karate mereka bisa mendapat penghargaan sabuk hitam kehormatan. Dengan demikian, perbedaan sabuk ini selain sebagai pelajaran bagi karateka untuk terus belajar dan berproses dalam meraih tujuan, juga saling menghormati dan menghargai sesama karateka adalah kemutlakan untuk dijalani.
Sabuk karate sendiri terdiri dari 6 warna sabuk yang diawali dari sabuk putih dan yang tinggi sabuk hitam. Arti dari warna sabuk tersebut yakni:
Dalam karate, warna sabuk (obi) membedakan satu karateka dengan karateka lain. Karateka dasar dimulai dari sabuk putih, sabuk yang digunakan untuk pemula dalam memulai belajar karate. Secara filosofis, perbedaan sabuk karate ini untuk menunjukkan bahwa karateka harus menjunjung tinggi sikap saling menghomati satu sama lain. Karateka yang baru belajar atau pemula harus menghormati karateka yang sudah lebih tinggi sabuk yang diraihnya, meski secara umur lebih muda. Maupun karateka yang sudah meraih sabuk lebih tinggi dari yang lainnya, wajib untuk menghargai dan menghormati pula karateka yang baru belajar. Sikap ini sejalan dengan prinsip karate yang dijelaskan oleh Gichin Funakoshi bahwa karate diawali dan diakhiri oleh sikap menghormati dan saling menghargai.
Obi sebagai sistem pemeringkatan dengan menggunakan ukuran kyu (yang kadang berbeda dari satu perguruan dan perguruan lain) merupakan bentuk representasi dari karate dalam menunjukkan bahwa karateka harus berproses dalam semua tujuan yang diinginkan. Untuk menjadi sekedar sabuk hitam, harus mulai belajar dasar. Untuk mengejar nilai kebaikan melalui perolehan sabuk hitam, harus belajar dari dasar. Kecuali untuk tokoh yang memberikan kontribusi dan dukungan nyata terhadap karate mereka bisa mendapat penghargaan sabuk hitam kehormatan. Dengan demikian, perbedaan sabuk ini selain sebagai pelajaran bagi karateka untuk terus belajar dan berproses dalam meraih tujuan, juga saling menghormati dan menghargai sesama karateka adalah kemutlakan untuk dijalani.
Sabuk karate sendiri terdiri dari 6 warna sabuk yang diawali dari sabuk putih dan yang tinggi sabuk hitam. Arti dari warna sabuk tersebut yakni:
Sabuk Putih (kyu 10) :
melambangkan kemurnian dan kesucian. Kemurnian dan kesucian ini merupakan kondisi dasar dari pemula untuk menerima dan mengolah hasil latihan dari guru masing-masing. Artinya berkembang atau
tidaknya karateka ini tergantung dari apa yang diberikan oleh senpai atau sensei mereka. Kemudian, setelah materi atau nilai karate telah disampaikan sesuai dengan apa yang seharusnya, selanjutnya tanggung jawab ada pada masing-masing individu.Sabuk Kuning (kyu 8).
Tingkatan kedua ini melambangkan warna matahari yang diibaratkan bahwa k
arateka telah melihat “hari baru” dimana dia telah mampu memahami semangat
karate, berkembang dalam karakter kepribadiannya dan juga teknik yang telah dipelajari. Sabuk kuning juga merupakan tahapan terakhir dari seorang “raw beginner” dan biasanya sudah mulai belajar tahapan-tahapan gerakan kumite bahkan ada juga yg mulai turun di suatu turnamen
Sabuk Hijau (kyu 6).
arateka telah melihat “hari baru” dimana dia telah mampu memahami semangat
karate, berkembang dalam karakter kepribadiannya dan juga teknik yang telah dipelajari. Sabuk kuning juga merupakan tahapan terakhir dari seorang “raw beginner” dan biasanya sudah mulai belajar tahapan-tahapan gerakan kumite bahkan ada juga yg mulai turun di suatu turnamenSabuk Hijau (kyu 6).
Sabuk ini merepresentasikan warna rumput dan pepohonan. Pemegang sabuk hijau ini sudah harus mampu memahami dan menggali lebih dalam lagi segala sesuatu yang berkaitan dengan karate seiring dengan bertumbuhnya semangat dan teknik gerakan yang sudah dikuasainya. Sifat dari warna hijau ini adalah pertumbuhan dan harmoni. Dengan demikian seorang karateka sabuk hijau diharapkan dalam proses pertumbuhannya mulai bisa memberikan harmoni dan keseimbangan bagi lingkungan.Sabuk Biru (kyu 4).
Warna sabuk ini melambangkan samudera dan langit. Artinya karateka harus
mempunyai semangat luas seperti angkasa dan sedalam samudera. Karateka harus
sudah mampu memulai berani untuk menghadapi tantangan yang dihadapinya dengan semangat tinggi dan berfikir bahwa proses latihan adalah sesuatu yang menyenangkan dan bisa merasakan manfaat yang didapatkan. Karateka harus sudah bisa mengontrol emosi dan berdisiplin.
Sabuk Coklat (kyu 3-1).
mempunyai semangat luas seperti angkasa dan sedalam samudera. Karateka harus
sudah mampu memulai berani untuk menghadapi tantangan yang dihadapinya dengan semangat tinggi dan berfikir bahwa proses latihan adalah sesuatu yang menyenangkan dan bisa merasakan manfaat yang didapatkan. Karateka harus sudah bisa mengontrol emosi dan berdisiplin.Sabuk Coklat (kyu 3-1).
Warna sabuk ini dilambangkan dengan tanah. Sifat warna ini adalah stabilit
as dan bobot. Artinya seorang karateka pemegang sabuk coklat mulai dari tingkatan kyu 3 sampai 1 harus bisa memberikan kestabilan sikap, kemampuan yang lebih dari pemegang sabuk di bawahnya, dan juga sikap melindungi bagi junior-juniornya. Selain itu, sikap yang harus dimiliki adalah sikap menjejak bumi (down to earth) dan rendah hati pada sesama.
Sabuk Hitam (Dan).
as dan bobot. Artinya seorang karateka pemegang sabuk coklat mulai dari tingkatan kyu 3 sampai 1 harus bisa memberikan kestabilan sikap, kemampuan yang lebih dari pemegang sabuk di bawahnya, dan juga sikap melindungi bagi junior-juniornya. Selain itu, sikap yang harus dimiliki adalah sikap menjejak bumi (down to earth) dan rendah hati pada sesama.Sabuk Hitam (Dan).
Warna hitam sendiri melambangkan keteguhan dan sikap kepercayaan diri yang didasari pada nilai kebaikan universal. Warna sabuk ini menjadi idaman bagi setiap karateka untuk mendapatkannya. Namun, di balik semua prestise sabuk hitam terdapat tanggung jawab besar dari karateka. Pada tahap ini, pemegang sabuk hitam mulai dari Dan 1 sampai selanjutnya sebenarnya baru memasuki tahap untuk mendalami karate yang lebih mendalam. Teknik maupun penguasaan makna hakiki dari kebaikan nilai karate sudah harus menjadi bagian dari karateka. (penggambaran Gichin Funakoshi).Dalam sebagian perguruan karate di Indonesia, sistem peringkat selain sabuk yakni kyu, ada beberapa perbedaan yakni ketika sabuk biru (kyu 4) mengikuti ujian sabuk coklat, penurunan kyu berbeda. Ada yang turun kyu 0,5 derajat menjadi kyu 3,5. Di perguruan lain ada yang langsung menjadi kyu 3. Dengan demikian, bagi sebagian perguruan karate di Indonesia ada yang menerapkan ujian untuk sabuk coklat sebanyak 4 kali (2 tahun atau 4 semester) sampai mendapat kyu 1. Namun bagi sebagian yang lain, bisa hanya sampai 1,5 tahun atau 3 semester.Maka, dalam karate selain sebagai pembeda antara karateka yang baru belajar dengan yang sudah lama menekuni karate, sabuk dipergunakan lebih luas dari itu yakni sebagai proses pendorong bagi karate untuk terus giat belajar dan berlatih. Selain itu juga, bagaimana perbedaan sabuk ini justru menjadi dorongan bagi semua karateka untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain.
Hierarki Karate merupakan tingkatan pada organisasi karate yang ditandai oleh tingkatan sabuk dengan sebutan masing-masing yaitu :
Warna Sabuk
|
Kyu
|
Sebutan
(Jepang)
|
Sebutan (Indonesia)
|
Putih
|
10
|
Kohai
|
Pemula
|
Kuning
|
9-8
|
Kohai
|
Pemula
|
Oranye
|
7
|
Kohai
|
Pemula
|
Hijau
|
6
|
Kohai
|
Pemula
|
Biru
|
5-4
|
Kohai
|
Pemula
|
Coklat
|
3-1
|
Sempai
|
Senior / Asisten Pelatih
|
Hitam
|
Dan 1 s/d Dan 3
|
Sempai
|
Senior / Pelatih biasa
|
Dan 4 s/d Dan 5
|
Sensei
|
Guru / Pelatih Kepala
| |
Dan 6 s/d Dan 8
|
Renshi / Dai Sensei / Kyoshi
|
Guru Ahli / Utama
| |
Dan 9 s/d Dan 10
|
Shihan / Hanshi
|
Guru Besar / Mahaguru
|
MAKNA SUMPAH KARATE
Sanggup Memelihara Kepribadian
Seorang Karateka berjiwa ksatria, sportif, berbudi pekerti luhur, tidak sombong dan rendah hati
Sanggup Patuh Pada Kejujuran
Seorang Karateka pantang berbohong, jujur pada diri sendiri dan orang lain, sehingga dapat dipercaya semua orang.
Sanggup Mempertinggi Prestasi
Sesuai tingkatan sabuk, seorang Karateka harus dapat meningkatkan
kemampuan diri dari segi teknik, fisik dan keilmuan serta filosofi
Karate-Do. Bagi para atlet harus rajin berlatih agar mampu meningkatkan
prestasi yang sudah diraih.
Sanggup Menjaga Sopan Santun
Karateka adalah figur yang memiliki etika dalam kehidupan
sehari-hari, baik di perguruan, pekerjaan dan pergaulan di masyarakat.
Menghormati dan menghargai sesama Karateka (yunior, setara dan senior)
maupun kepada orang lain.
Sebagaimana dinasihatkan Gichin Funakoshi: “Tanpa sopan santun kau
tidak akan bisa berlatih Karate-Do. Hal ini tidak hanya berlaku selama
latihan saja namun juga dalam hidupmu sehari-hari.”
Sanggup Menguasai Diri
Seorang Karateka yang menjiwai Karate-Do akan mampu mengendalikan
emosinya. Lebih memilih menyelesaikan masalah dengan cara musyawarah
daripada kepalan tangan. Selalu menghindari perkelahian daripada
menimbulkan masalah apalagi mencederai orang lain. Teknik Karate hanya
digunakan saat keadaan benar-benar memaksa dan tak ada jalan lain untuk
menghindar.
Gichin Funakoshi mengingatkan; untuk mendapat seratus kemenangan
dalam seratus pertarungan bukanlah kemampuan yang tertinggi. Untuk
menaklukkan lawan tanpa bertarung adalah kemampuan yang tertinggi.
Sebuah Renungan
Sumpah Karate diucapkan saat upacara tradisi Karate, di awal dan akhir latihan.
Jika latihan dua kali dalam seminggu, berarti seminggu empat kali mengucap sumpah.
Dalam sebulan, berarti enam belas kali mengucap sumpah.
Sebagai Karateka, apakah sikap dan tingkah laku kita sudah sesuai
dengan sumpah yang kita ucapkan ratusan bahkan ribuan kali selama kita
berlatih Karate?
Tingkatan sumpah lebih tinggi tanggungjawabnya dari sekedar ikrar dan janji. Sumpah, mudah diucapkan, tapi tak semua orang bisa melaksanakan. Inkai Ranting Karate Amboy August 12, 2015 CB Blogger Indonesia

Mars INKAI
Ciptaan: Utut A. dan Zulhendar
Institut Karate-Do Indonesia inkai
Dengan sabuk melingkari dunia
Berukir merah putih
Lambang sikap berani
Namun tatap hati bersih
Melatih beladiri para putra-putri Membentuk pribadi luhur dan jujur
Menjaga sopan santun
Sportivitas dijunjung
Di arena siap tarung
Reff:
Berlatih tanpa henti
Meraih prestasi
Dengan tekad suci
Harumkan nama bangsa
Diseluruh negeri
Persembahan untuk ibu pertiwi
Institut Karate-Do Indonesia inkai
Dengan sabuk melingkari dunia
Walau badai menghadang
Dengan semangat bushido
Inkai pasti tetap jaya
Inkai pasti tetap jaya
Institut Karate-Do Indonesia inkai
Dengan sabuk melingkari dunia
Berukir merah putih
Lambang sikap berani
Namun tatap hati bersih
Melatih beladiri para putra-putri Membentuk pribadi luhur dan jujur
Menjaga sopan santun
Sportivitas dijunjung
Di arena siap tarung
Reff:
Berlatih tanpa henti
Meraih prestasi
Dengan tekad suci
Harumkan nama bangsa
Diseluruh negeri
Persembahan untuk ibu pertiwi
Institut Karate-Do Indonesia inkai
Dengan sabuk melingkari dunia
Walau badai menghadang
Dengan semangat bushido
Inkai pasti tetap jaya
Inkai pasti tetap jaya
Download Lagu Mars INKAI
Inkai Ranting Karate Amboy
August 12, 2015
CB Blogger
Indonesia


















